Selasa 04 Sep 2012 15:35 WIB

Universitas Al-Mustansiriyah, Cahaya Peradaban Era Abbasiyah (2)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad
Universitas Al-Mustansiriyah di Baghdad, Irak.
Foto: iraqi-japan.com
Universitas Al-Mustansiriyah di Baghdad, Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, Guna menunjang aktivitas perkuliahan, Khalifah Al-Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa besarnya.

Penjelajah Muslim terkemuka kelahiran Tangier, Maroko bernama Ibnu Battuta dalam catatan perjalanannya berjudul “Ar-Rihla” mengungkapkan betapa besarnya perpustakaan kampus Universitas Al-Mustansiriyah.

Menurut Ibnu Battuta, perpustakaan ini mendapatkan sumbangan buku-buku langka yang diangkut oleh 150 unta.

Dari kekhalifahan saja, pada abad ke-13 M perpustakaan ini mendapatkan sumbangan 80 ribu buku. Perpustakaan ini terbilang unik, karena di dalamnya terdapat rumah sakit.

Pada awalnya, universitas ini didirikan Khalifah Al-Mustansir untuk mempromosikan Islam Sunni ketika Baghdad menjadi pusat kekhalifahan terbesar di dunia.

Keberadaan universitas ini tentu sangat penting, karena mampu melahirkan para ilmuwan dan intelektual terkemuka di zamannya. Seiring berkembangnya waktu, universitas ini juga mengajarkan studi zoologi dan linguistik.

Gedung dan bangunan Universitas Al-Mustansiriah terkenal dengan keindahannya. Terletak di tepi kiri Sungai Tigris, perguruan tinggi ini juga sempat menjadi korban keganasan invasi bangsa Mongol yang dipimpin Khulagu Khan.

Hingga kini, bangunan aslinya masih tetap ada dan sempat direstorasi. Bekas bangunannya masih menjadi daya tarik Kota Baghdad yang letaknya dekat Museum Baghdad, Jalan Mutanabbi, dan Istana Khalifah.

Nama besar perguruan tinggi yang sempat berjaya di abad ke-13 M dan sempat mati setelah invasi bangsa Mongol itu pun akhirnya kembali dihidupkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement