REPUBLIKA.CO.ID, Saat itu, Konya adalah ibu kota pemerintahan Seljuk Rum (1081 M-1302 M). Sedangkan, yang berada di Museum Konya ternyata permadani yang secara khusus dibuat pada 1298 M untuk Masjid Eshrefoglu di Beysehir.
Permadaninya sungguh indah, karena dihiasai dengan desain bintang yang geometris dan dibingkai dengan kaligrafi.
Pembuatan permadani sempat terhenti, ketika Kekhalifahan Seljuk mulai terpuruk akibat digempur invansi bangsa Mongol pada 1259 M.
Persia, Suriah, dan Baghdad sempat jatuh ke tangan Hulagu Khan. Kota penting Islam itu pun dihancurkan, akibatnya produksi permadani terhambat. Dalam waktu yang terlalu lama, industri pembuatan permadani kembali menggeliat.
Dalam catatan perjalanannya bertajuk, “Ar-Rihlah”, pengembara Muslim legendaris, Ibnu Battuta (1304 M-1377 M), mengisahkan kualitas permadani Anatolia yang dijumpainya di rumah peristirahatan bagi para pelancong.
Penjelajah asal Barat bernama Marco Polo (1254 M- 1324 M) juga memuji keindahan permadani yang diciptakan peradaban Islam. Pada abad ke-14, desain hiasan binatang sangat digemari di dunia Islam.
Tren desain hiasan ini ternyata juga mampu memengaruhi para seniman di Barat. Lukisan berjudul ‘Saint Ludovic crowning Robert Angevin’ yang dibuat Simone Martini (1280 M-1344 M) pada 1317 M, adalah sebuah lukisan permadani dengan desain geometris dan gambar elang di bawah tahta.
Jika dirunut, ternyata permadani dengan desain hiasan gambar binatang sudah menjadi tren di Kota Fustat, Mesir, sejak abad ke-9 M. Ketika Kekhalifahan Turki Usmani berkuasa, penggunaan gambar, seperti binatang, mulai dilarang menghiasai permadani.
Sehingga hiasan permadani lebih menggunakan bentuk geometri abstrak. Gaya ini menjadi ciri khas seni Kekhalifahan Usmani. Permadani Turki Usmani pun mulai mengenalkan desain hiasan dengan motif bergambar tumbuh-tumbuhan.




