REPUBLIKA.CO.ID, Bangunan Istana Aljaferia, sebagaimana dijelaskan Yulianto Sumalyo dalam bukunya yang berjudul “Arsitektur Mesjid dan Monumen Sejarah Muslim”, dikelilingi oleh benteng.
Benteng tersebut berbentuk segi empat tidak teratur. Sisi-sisinya saling berhadapan dan sedikit tidak sejajar. Dinding benteng terdiri dari kombinasi batu dan bata. Sementara itu, pintu masuk benteng berbentuk tapal kuda.
Dibangun oleh seniman Mudejar sebutan bagi Muslim Spanyol asal Toledo, Istana Aljaferia sangat kaya akan ornamen.
Detail plester pada bagian dinding menampilkan pola-pola geometrik yang rumit. Sedangkan, di bagian sudut atas dari dinding istana masih terlihat tulisan kaligrafi Arab.
Sebuah halaman terdapat di dalam bangunan istana yang menghadap ke arah utara. Halaman dalam utama tersebut berada di tengah, yang di kelilingi oleh portico dua lantai, sehingga membentuk sebuah sahn yang menyerupai sebuah taman terbuka.
Ujung utara dari halaman dalam utama ini berhubungan langsung dengan sebuah ruangan yang menampilkan bentuk lengkung iwan. Ruangan ini di masa lalu dipergunakan sebagai ruang singgasana raja.
Sejak dibangun, Istana Aljaferia telah mengalami beberapa kali renovasi. Andrew Petersen dalam “Dictionary of Islamic Architecture” mengungkapkan, perbaikan pertama kali dilakukan pada zaman kekuasaan Islam, yakni terhadap dinding bagian luar istana. Renovasi selanjutnya tercatat dilakukan pada 1492.
Kemudian pada 1593, beberapa bagian bangunan dalam kompleks istana ini dikonversi menjadi pangkalan militer.