Rabu 11 Jul 2012 15:03 WIB

Pengembangan Sains dalam Islam (4)

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad
Ilustrasi
Foto: wordpress.com
Ilustrasi

Perkembangan Ilmu Bumi dan Astronomi Islam

Agama Islam telah melahirkan banyak ilmu pengetahuan. Semuanya bersumber dari Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Para intelektual dan cendekiawan Muslim senantiasa menggali ilmu pengetahuan dalam Islam. Hasilnya, sungguh mengagumkan. Berbagai karya mereka hingga kini telah dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia di dunia ini.

Dan hasil karya mereka itu, sebagaimana dikutip dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, bukan hanya melalui buku-buku, tetapi bukti ilmiah dengan ragam karya yang menakjubkan. Mulai dari ilmu bumi, matematika, fisika, kimia, astronomi, tata surya, kedokteran, pertanian, hingga pertambangan.

Ilmu Bumi

Ilmuwan-ilmuwan Muslim tradisional sangat memerhatikan bumi dan segala isinya. Dalam tradisi Islam, ilmu bumi tak dapat dipisahkan dengan ilmu langit atau astronomi. Sementara dalam dunia modern, khazanah ilmu tentang bumi terpecah menjadi beberapa disiplin ilmu, yaitu geografi, geologi, dan geofisika meteorologi.

Ahli ilmu bumi pertama dalam sejarah Islam adalah Hisyam Al-Kalibi, yang termasyhur pada awal abad ke-9, khususnya dalam studinya yang mendalam mengenai kawasan Arab. Rintisannya diikuti oleh beberapa ahli ilmu bumi lainnya, di antaranya Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi yang membuat peta globe (dunia) pertama.

Pada abad yang sama, seorang filsuf besar Islam, Al-Kindi, menulis sebuah buku berjudul Keterangan tentang Bagian Bumi yang Berpenghuni, dan Al-Ya'qubi yang menulis Buku tentang Negeri-negeri, yang terkenal karena studi topografisnya.

Nama lainnya adalah Al-Biruni dengan karyanya, Al-Atar al-Baqiyah fi Qanun Al-Khaliyah, yang membahas tentang sejarah dan geografi zaman dahulu. Kemudian, Ibnu Sina dengan karyanya, Asy-Syifa', yang membahas tentang terbentuknya batu-batuan, gunung, gempa bumi, dan gunung berapi, serta fosil-fosil hewan laut yang ada di daratan yang jauh dari pantai.

Pada abad ke-12, seorang ahli geografi terkenal, Al-Idrisi, menyusun sebuah risalah geografi yang diberi judul Kitab Nazhah Al-Muslak fi Ikhtira' Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala).

Selanjutnya, muncul Ibnu Galib di Granada, Spanyol (Andalusia), yang menulis geografi dan sejarah Spanyol. Lalu, ada Qutubuddin Asy-Syirazi (1236-1311) dan Yaqut Ar-Rumi (1179-1229) yang menulis Peta Laut Putih (Laut Tengah) dan Mu'jam Al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement