REPUBLIKA.CO.ID, Kontribusi Islam dalam matematika juga telah melahirkan istilah kosinus, sinus, dan tangen dalam trigonometri penyelesaian persamaan.
Selain itu, berkat jasa ilmuwan Islam pula, saat ini masyarakat dunia bisa mengukur luas segi tiga, segi empat dan lingkaran dalam geometri.
Kontribusi ilmuwan Islam dalam mengembangkan matematikan telah diakui dunia Barat. JJ O'Conner dan EF Robertson dalam MacTutor History of Mathematics berkata, “Kami (Barat) berhutang jasa terhadap matematika Islam.”
Menurut mereka, begitu banyak ide-ide brilian yang berkembang dalam bidang matematika Eropa pada abad ke-16, 17 dan 18 ternyata merupakan hasil pemikiran ahli matematika Arab/Islam. Matematika yang berkembang di dunia Islam, papar O'Conner dan Robertson, lebih cepat empat abad dibanding Eropa.
Pengaruh matametika yang ditularkan ilmuwan Islam terhadap Barat begitu dominan dibandingkan matematika Yunani. “Dengan segala hormat, studi matematika saat ini di Eropa lebih dekat dengan gaya matematika Islam ketimbang matematika Yunani,” imbuh O'Conner dan Robertson.
Ahli Matematika, Keith Devlin dalam tulisannya berjudul Mathematical Legacy of Islam mengungkapkan, sekolah-sekolah katedral di Eropa mulai melek matematika sekitar abad ke-10. Sarjana Katolik pun tertarik untuk menguasai ilmu hitung dengan mendatangi Spanyol, yang ketika itu didominasi peradaban Islam yang berkembang pesat.
Menurut Devlin, mereka yang berguru matematika dari Islam itu antara lain Gerbert d'Aurillac (945-1003 M), yang kemudian menjadi Paus Sylvester II. Selepas belajar matematik di Spanyol, dia kemudian mendirikan sekolah katedral dan mengajarkan aritmatika dan geometri kepada para muridnya.
Transfer matematika dari dunia Islam ke Barat dilakukan dengan cara menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan Islam. Dengan menguasai matematika, Barat kini menggenggam dunia.




