Selasa 26 Jun 2012 22:12 WIB

Matematika dan Islam (2)

Rep: Heri Ruslan/ Red: Chairul Akhmad
Aljabar (ilustrasi).
Foto: Blogspot.com
Aljabar (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Buah pikir ahli matematika seperti Euclid, Apollonius, Archimedes, Diophantus, Aryabhata dan Brahmagupta telah menjadi rujukan utama bagi ilmuwan Muslim yang mendalami ilmu tersebut.

Ghirah keilmuwan yang menyelimuti umat Islam ketika itu telah membuat transfer ilmu pengetahuan berkembang begitu cepat.

Berdirinya perpustakaan besar Bait Al-Hikmah di Baghdad yang dibangun Khalifah Al-Ma'mun telah melecut semangat para ilmuwan dan intelektual Islam dalam melahirkan karya-karya yang baru.

Apalagi, pada saat itu ilmuwan dan intelektual begitu dihargai dan digaji dengan bayaran yang luar biasa besar. Dalam waktu yang tak terlalu lama, era tamadun Islam itu telah melahirkan sejumlah ilmuwan Islam yang memberi kontribusi dalam mengembangkan matematika.

Salah satu ilwuwan yang tersohor adalah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (780-850 M). Al-Khawarizmi yang dikenal di dunia Barat dengan sebutan Algorisme itu telah melahirkan karya-karya yang diakui dalam bidang matematika.

Pada 830 M, Al-Khawarizmi telah melahirkan sebuah buku yang berjudul Al-Jabr wa Al-Muqabala. Dari buku itulah kata Aljabar diperoleh. Kitab Al-Jabr wa Al-Muqabala diterjemahkan ke dalam bahasa latin berjudul Liber Algebrae et Almucabala oleh Robert of Chester dan Gerard of Cremona.

Aljabar merupakan penggabungan teori bilangan-bilangan rasional, irasional, dan geometri. Konsep yang ditawarkan Al-Khawarizmi itu memberi dimensi dan pengembangan teori matematika yang benar-benar baru.

Metode Al-Khawarizmi dalam menyelesaikan linear dan notasi kuadrat dilakukan dengan mereduksi notasi ke dalam enam bentuk standar (di mana b dan c adalah angka positif). Angka ekual kuadrat (ax2 = c), angka ekual akar (bx = c), kuadrat dan akar ekual (ax2 + bx = c), kuadrat dan angka akar ekual (ax2 + c = bx), akar dan angka kuadrat ekual (bx + c = ax2) dan kuadrat ekual akar (ax2 = bx).

Ilmuwan matematika Islam lainnya, yang juga turut memberi sumbangan yang besar bagi pengembangan matematika, khususnya Aljabar, adalah Omar Khayyam. Ia mampu menjabarkan akar pangkat tiga dalam bentuk sketsa gambar kerucut tapi belum mampu menemukan rumus pemecahannya. Aljabar mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.

Ilmu matematika yang dipelajari dan diajarkan Al-Khawarizmi telah menghasilkan konsep-konsep matematika yang begitu populer, dan masih tetap digunakan hingga saat ini. Bahkan, angka nol (0) yang ada saat ini juga merupakan kontribusi ilmuwan Islam.

Angka nol itu dibawa ke Eropa oleh Leonardo Fibonanci dalam karyanya, Liber Abaci. Kehadiran angka nol itu sempat ditolak kalangan gereja Kristen. Angka nol telah membawa implikasi yang amat besar dalam seluruh aspek kehidupan dan peradaban manusia. Tanpa itu, revolusi digital mustahil bisa terjadi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement