Selasa 19 Jun 2012 22:12 WIB

Sultan Alp Arslan, Pemimpin yang Cinta Rakyat (3)

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad
Sultan Alp Arslan (ilustrasi).
Foto: yenile.org
Sultan Alp Arslan (ilustrasi).

Kisah heroik Sang Sultan

Salah satu perang besar yang pernah dilakoni Sultan Alp Arslan adalah peperangan di dekat Kota Manzikert (sekarang Malazgirt, Turki Timur).

Pada 26 Agustus 1071 M atau bertepatan dengan 463 H, pasukan Romawi Timur (Byzantium) yang dipimpin Kaisar Romanus Diogenes IV bertemu dengan pasukan Seljuk di bawah komando Sultan Alp Arslan di Kota Manzikert.

Pertempuran itu memainkan peran penting dalam melemahkan Kekaisaran Romawi Timur dan jatuhnya Anatolia ke tangan Kesultanan Seljuk. Dalam peperangan tersebut, pasukan Seljuk berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan Romawi Timur.

Penyebab pertempuran tersebut karena Kaisar Romawi mempersiapkan pasukannya untuk menyerang dan membantai orang Islam. Pasukan yang dipersiapkan oleh Kaisar Romanus jumlahnya mencapai 100 ribu orang. Pasukan Romanus terdiri atas orang-orang Romawi, Eropa, Eropa bagian barat, Rusia, Bajnak, Karg, dan lain-lain.

Ketika pasukan Romanus sudah sampai di Manzikert, Sultan Alp Arslan masih belum mampu mengumpulkan semua pasukannya. Penyebabnya, jarak satu pasukan dengan yang lain sangat berjauhan dan ditambah lagi posisi musuh yang sudah semakin dekat. Dengan persiapan secukupnya, dia berangkat menuju Romawi. Pasukan yang dibawanya hanya berjumlah 15 ribu orang dari para penunggang kuda. Itu pun ia dapatkan di dalam perjalanan.

Sebelum bertempur melawan tentara kafir, dia berpidato di hadapan pasukannya, ''Aku berjuang karena hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT dan dengan penuh kesabaran. Kalau seandainya aku menang, maka itu adalah merupakan suatu nikmat dari Allah, seandainya aku mati syahid, maka putraku Malik Shah yang akan menggantikanku.''

Barisan depan antara dua pasukan mulai bertempur. Barisan depan pasukan Romawi jumlahnya mencapai 10 ribu orang. Ketika kedua pasukan hampir saling menyerang, Sultan Alp Arslan sempat menawarkan perdamaian kepada Kaisar Romanus. Namun, tawaran tersebut ditolak.

Penolakan tersebut sempat membuat Sultan Alp Arslan merasa gelisah. Gurunya yang juga seorang ahli fikih, Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhari Al-Hanafi, berkata kepadanya, ''Sesungguhnya Anda berperang untuk membela agama Allah. Dia telah berjanji akan menolong agama-Nya dan akan memenangkan agama-Nya atas semua agama-agama.''

''Saya berdoa agar Allah SWT menentukan kemenangan dalam pertempuran ini untuk pasukan Islam dengan perantaraan dirimu. Seranglah mereka pada hari Jumat setelah tergelincirnya matahari, yaitu ketika para khatib sedang berada di atas mimbar. Pada saat itu semua khatib berdoa agar orang-orang yang berjihad di jalan Allah mendapatkan kemenangan. Doa mereka pasti akan dikabulkan oleh Allah.''

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement