Selasa 12 Jun 2012 23:53 WIB

Rumah Sakit pada Masa Keemasan Islam (5-habis)

Rep: Nidia Zuraya / Red: Chairul Akhmad
 Thibbun Nabawi (ilustrasi).
Foto: http://saifulislam.com
Thibbun Nabawi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Sebagaimana sistem pengobatan modern, dalam thibbun nabawi juga dikenal adanya tiga metode pengobatan, yakni preventif (pencegahan), spiritual, dan kuratif (penyembuhan).

Tindakan pencegahan menurut kacamata Islam, jelas Prof Kasule, tergantung pada kondisi ilmu pengetahuan serta perubahannya mengikuti ruang dan waktu.

Preventif

Menurut Jalaluddin Al-Suyuti dalam bukunya yang bertajuk Mukhtasar Al-Thibb Al-Nabawi, kebanyakan thibbun nabawi merupakan pencegahan. Ia menguraikan langkah medis preventif, seperti makanan dan olahraga.

Langkah medis preventif lainnya yang dijabarkan oleh Al-Suyuti sama halnya dengan yang diajarkan dalam hadis. Hal tersebut meliputi: karantina untuk penderita wabah, melarang urinasi pada air yang tenang atau tidak mengalir, penggunaan sikat gigi, dan siwak.

Selain itu, perlindungan rumah pada malam hari dari kebakaran dan penyakit pes, meninggalkan sebuah negara karena keadaan air dan iklimnya, kesehatan mental dan pernikahan, kesehatan pernikahan dan seksual, kontrol diet untuk mencegah berat badan berlebihan, menjaga kebersihan, dan mencegah najis.

Spiritual

Dalam pengobatan dengan metode spiritual, Al-Suyuti menerangkan bahwa ada aspek-aspek spiritual dari penyembuhan dan pemulihan. Misalnya doa, pembacaan Alquran, dan mengingat Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Penyakit psikosomatik dapat merespons pendekatan spiritual.

Penggunaan rukyat (Surah Al-Fatihah, Al-Mu'awadzatain) jatuh di antara proses penyembuhan fisik dan spiritual. Bagian penyembuhan dari rukyat bisa dipahami dalam istilah modern bahwa jiwa mampu mengendalikan mekanisme kekebalan tubuh untuk mencegah penyakit.

Kuratif

Ibnul Qayim Al-Jauziyah dalam bukunya yang berjudul Al-Thibb Al-Nabawi menyebutkan, banyak penyakit yang tindakan medisnya direkomendasikan dari cara pengobatan Nabi SAW.

Di antara penyakit-penyakit yang menurut thibbun nabawi dapat diobati dengan pengobatan alami adalah demam, luka, epilepsi, tekanan darah tinggi, iritasi kulit, erupsi kulit, radang selaput dada (pleurisy), sakit kepala, radang tenggorokan, pembesaran jantung, radang mata, otot kaku, keracunan makanan, diare, hidung berdarah (mimisan), sakit gigi, batuk, keseleo, mata merah, gigitan ular, gigitan kalajengking, pes, dan kutu kepala.

Bentuk perawatan medis untuk penyakit-penyakit tersebut, menurut Ibnu Qayyim, di antaranya adalah melakukan diet; air dingin (untuk demam); serta mengonsumsi madu, susu, dan urine unta serta jintan hitam (al-habbah al-sauda).

Sedangkan, bentuk perawatan bedah yang dapat dilakukan adalah bekam (al-hijamah) dan kauterisasi (teknik penyembuhan dengan mempergunakan cairan, getah, larutan, atau penggunaan bahan larutan kimia untuk membakar jaringan pada bagian yang terinfeksi; cara ini hanya bisa dilakukan pada penyakit tertentu saja, seperti mimisan, kanker, dan penyakit kulit). 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement