Ahad 29 Jan 2012 06:06 WIB

Menelusuri Jejak Juwatsa: Situs Suci Ketiga (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Juwatsa adalah nama sebuah desa yang pada zaman Rasulullah terletak di Hijar, Bahrain. Desa itu merupakan salah satu wilayah yang penting dalam sejarah Islam. Kini, wilayah Hijar dikenal dengan nama Al-Ahsa dan sudah masuk dalam wilayah Kerajaan Arab Saudi.

Pada masa Rasulullah SAW, Bahrain terbagi menjadi tiga provinsi. Pertama, Provinsi Hijar (kini  bernama Al-Hasa terletak di Arab Saudi). Kedua, Provinsi Al-Katt (kini bernama Al-Qatif juga terletak di Arab Saudi). Ketiga, Provinsi Awal (kini daerah inilah yang bernama Bahrain).

Di desa itu terdapat sebuah masjid yang tercatat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Abu Daud.  Masjid yang dibangun oleh kabilah Abdul Qais itu bernama Masjid Juwatsa.  Masjid Juwatsa, sekarang berada di kampung Al-Kilabiyah, sekitar 12 kilometer dari Hofuf, Al-Ahsa, Arab Saudi.

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya  shalat Jumat yang  pertama kali dilakukan sesudah di masjid Rasulullah SAW ialah di masjid milik kabilah Abdul Qais di desa Juwatsa yang termasuk kawasan Bahrain.”  Di masjid inilah, shalat Jumat digelar di luar masjid Nabi SAW.

Masjid Juwatsa merupakan tempat ibadah umat Islam yang pertama kali dibangun di kawasan Timur Arab. Masjid yang dibangun pada tahun tujuh Hijriah itu, kini hanya berupa puing dan reruntuhan. Menurut legenda, ketika Hajar Aswad dicuri oleh Karmatian dari Makkah, batu tersebut disembunyikan di Masjit Juwatsa selama 22 tahun.

Itulah mengapa  Masjid Juwatsa mendapat tempat khusus dalam sejarah Islam. Universitas King Fahd menempatkan Masjid Juwatsa sebagai situs paling suci ketiga di dunia Islam. Imam Ahmad dalam Fadail al-Sahabah (1510) dan Abd al-Razzaq dalam  Musannaf menulis:

‘’Setelah Rasulullah SAW wafat, orang-orang Arab menjadi murtad, kecuali tiga masjid: Masjidil  al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Bahrain (Masjid Juwatsa).’’ Maksudnya, ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, banyak orang Arab yang murtad, kecuali masyarakat Muslim di Makkah, Madinah, dan Bahrain.

Bahkan, ketika penguasa Bahrain bernama al-Mundhir bin Sawaya al-Abdi meninggal, banyak pula yang kembali menyembah berhala. Namun, masyarakat Muslim yang tinggal di dekat Masjid Juwatsa tetap berpegang pada agama yang paling benar, yakni Islam. Mereka yang murtad dan kembali menyembah berhala mencoba mengembargo umat Islam yang berada di sekitar Masjid Juwatsa. Dalam kondisi lapar dan haus,  mereka tetap memegang teguh ajaran agama Allah SWT.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement