Ahad 07 Aug 2011 07:50 WIB

Kecil yang Membawa Perubahan Islam di Eropa

Rep: C23/ Red: Didi Purwadi

REPUBLIKA.CO.ID,AMSTERDAM - Hidup di perantauan, jauh dari keluarga di Indonesia, membuat pertemuan dengan sesama orang Indonesia di Belanda menjadi sesuatu yang selalu dinantikan. Tak hanya sekedar bersilaturahim, buka bersama menjadi momen yang dirindukan karena bisa juga sambil mengobati kerinduan dengan masakan Indonesia.

Tradisi buka puasa bersama sangat sering dilakukan oleh para pelajar Indonesia di Belanda. Mereka tergabung dalam Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) yang sudah berdiri sejak 1971. Beberapa tahun kemudian mucul PPME di Jerman. Status PPME di Belanda berubah menjadi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPME. Kini, di Belanda perkumpulan ini sudah terbagi menjadi cabang-cabang Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, dan Delf.

PPME Amsterdam sering menyelenggarakan acara buka puasa dengan menu khas Indonesia. Menu soto dan pecel menjadi pemandangan khas ketika pemuda di negeri Kincir Angin ini berkumpul menikmati ramadhan bersama.

PPME, sebagai sebuah organisasi keagamaan, mempunyai misi mulia untuk membantu penyebaran dakwah Islam. Dalam kegiatan dakwah dan sosial, PPME antara lain mengorganisasi perjalanan haji/umroh, pernikahan, dan memelihara solidaritas kekeluargaan.

Masjid Alhikmah

Dari organisasi PPME ini kemudian mampu mendirikan masjid di kota Den Haag yang diberi nama Masjid Al-Hikmah. Masjid yang didirikan di bekas bangunan gereja Immanuel ini menjadi markas bagi kegiatan PPME. Kerap dilakukan dzikir bersama, pengajian, dan diskusi sebelum berbuka puasa.

Berdirinya masjid Al-Hikmah diawali dari tahun 1995. Saat itu mushola Al-Ittihad tidak dapat lagi dapat menampung jamaah yang terus bertambah. Probosutedjo, pengusaha Indonesia, membeli gereja tersebut dan mewakafkannya atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto pada 1 Juli 1996.

Bukan hal yang mudah untuk mendirikan bangunan baru di Belanda. Apalagi, masjid yang merupakan fasilitas ibadah di golongan umat Islam yang minoritas. Ketika itu banyak gereja tidak digunakan dan dijual kepada umum. Masyrarakat Belanda lebih senang jika bekas gereja digunakan sebagai masjid daripada tempat hiburan yang mengajak orang hidup berfoya-foya.

Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk pengajian dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat.

Dalam perjalanannya, PPME banyak berhubungan dengan organisasi Islam internasional. Antara lain dengan Mu’tamar al-’Alam al Islami di Pakistan, Muslim Word League di Makkah, Rabithah al-’Alam al-Islami di Makkah, dan World Assembly of Muslim Youth (WAMY) di Riyad.

Dari PPME, semoga Islam bisa berjaya di Eropa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement