Selasa 24 May 2011 21:41 WIB

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Menjelang Perang Badar

Red: cr01
Ilustrasi
Foto: Wordpress.com
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Pada permulaan musim gugur tahun kedua Hijrah, Abu Sufyan berangkat membawa perdagangan yang cukup besar, menuju Syam. Perjalanan dagang inilah yang ingin dicegat oleh orang-orang Islam ketika Nabi SAW dulu pergi ke Usyaira. Tetapi tatkala mereka sampai kafilah Abu Sufyan sudah lewat dua hari lebih dulu sebelum ia tiba di tempat tersebut. 

Sekarang kaum Muslimin  bertekad menunggu mereka kembali. Sementara Rasulullah menantikan mereka kembali dari Syam itu, dikirimlah Talhah bin Ubaidillah dan Sa'id bin Zaid menunggu berita-berita. Mereka berdua berangkat, dan sesampai di tempat Kasyd Al-Juhani di bilangan Haura', mereka bersembunyi, menunggu hingga kafilah itu lewat. Kemudian mereka berdua cepat-cepat menemui Rasulullah guna memberitahukan keadaan mereka.

Sementara itu, Abu Sufyan sudah mengetahui pula akan kepergian Muhammad SAW yang akan mencegat kafilahnya dalam perjalanan ke Syam. Ia khawatir kalau-kalau  kaum Muslimin akan mencegatnya bila ia kembali dengan membawa laba perdagangan. Abu Sufyan lalu mengupah Dzamdzam bin Amr Al-Ghifari supaya cepat-cepat pergi ke Makkah untuk mengerahkan Quraisy menolong harta-benda  mereka, juga diberitahukannya, bahwa Muhammad dan sahabat-sahabatnya sedang mengancam.

 

Setibanya di Makkah, ketika berada di tengah-tengah sebuah lembah, Dzamdzam memotong kedua telinga dan hidung untanya dan membalikkan pelananya. Dengan mengenakan baju yang sudah dikoyak-koyak bagian depan dan belakangnya, ia berteriak, "Hai orang-orang Quraisy! Kafilah, kafilah! Harta bendamu di tangan Abu   Sufyan telah dicegat oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya. Kamu sekalian harus segera menyusul. Perlu pertolongan! Pertolongan!"

 

Mendengar ini Abu Jahal segera memanggil orang-orang di sekitar Ka'bah. Mereka dikerahkan. Sebenarnya orang-orang Quraisy itu sudah tidak perlu lagi dikerahkan, karena setiap orang memiliki saham sendiri-sendiri dalam kafilah itu.

 

Pada hari kedelapan bulan Ramadhan tahun kedua Hijrah, Nabi SAW berangkat   dengan sahabat-sahabatnya meninggalkan Madinah. Dalam perjalanan ini kaum Muslimin didahului oleh dua bendera hitam. Mereka membawa tujuh puluh ekor  unta, yang dinaiki dengan cara silih berganti. Setiap dua orang, setiap tiga orang dan  setiap empat orang bergantian naik seekor unta.

Dalam hal ini, Rasulullah juga mendapat bagian sama seperti sahabat-sahabatnya  yang lain. Beliau, Ali bin Abi Thalib dan Marthad bin Marthad Al-Ghanawi bergantian naik seekor unta. Abu Bakar, Umar dan Abdurahman bin Auf bergantian juga dengan seekor unta. Jumlah mereka yang berangkat bersama Muhammad dalam  ekspedisi ini terdiri dari 305 orang, 83 di antaranya Muhajirin, 61 orang Aus dan selebihnya dari Khazraj.

 

Karena dikhawatirkan Abu Sufyan akan menghilang lagi, mereka cepat-cepat berangkat sambil terus berusaha mengikuti berita-berita tentang orang ini di mana  saja mereka berada. Tatkala sampai di Irq Az-Zubya, mereka bertemu dengan seorang   orang Arab gunung yang ketika ditanyai tentang rombongan itu, ternyata ia tidak tahu apa-apa. Mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di sebuah wadi bernama Dhafiran; di tempat itu mereka turun. Di tempat inilah mereka mendapat berita,  bahwa pihak Quraisy sudah berangkat dari Makkah, akan melindungi kafilah mereka.

 

Ketika itu suasananya sudah berubah. Kini kaum Muslimin dari kalangan Muhajirin dan Anshar bukan lagi berhadapan dengan Abu Sufyan dengan kafilahnya yang berjumlah 30 atau 40 orang itu saja—yang takkan dapat melawan Muhammad SAW dan para sahabatnya, melainkan Makkah dengan seluruh isinya kini keluar dipimpin  oleh pemuka-pemuka mereka sendiri guna membela perdagangan mereka itu.

 

Andaikata pihak Muslimin dapat mengejar Abu Sufyan, dan beberapa orang dari rombongan itu dapat ditawan, unta beserta muatannya sudah dapat dikuasai, maka pihak Quraisy pun tentu akan segera pula dapat menyusul mereka. Karena mereka terdorong oleh rasa cinta terhadap harta dan ingin mempertahankannya. Mereka merasa telah didukung oleh sejumlah orang dan perlengkapan yang cukup besar, dan akan bertempur demi harta mereka.

 

Rasulullah kemudian bermusyawarah dengan para sahabatnya. Diberitahukannya kepada mereka tentang keadaan Quraisy menurut berita yang sudah diterimanya. Abu Bakar dan Umar juga memberikan pendapat.

Kemudian Miqdad bin Amr tampil seraya berujar, "Rasulullah, teruskanlah apa yang  sudah ditunjukkan Allah. Kami akan bersamamu. Kami tidak akan mengatakan seperti Bani Israil yang berkata kepada Musa:  'Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah! Kami di sini akan tinggal menunggu.' Tetapi pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami bersamamu akan turut berjuang juga."

 

Mereka kemudian berangkat. Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar,  Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendirian. Beliau menemui seorang orang Arab  tua. Kepada orang ini beliau menanyakan tentang Quraisy yang kemudian diketahui bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

 

Rasulullah kemudian kembali ke tempat sahabat-sahabatnya. Ali bin Abi Thalib,  Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash dan beberapa orang sahabat lainnya   segera ditugaskan mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Mereka kembali dengan membawa dua orang anak. Dari kedua anak ini Rasulullah  mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung wadi.

Ketika Rasulullah menanyakan apakah mereka mengetahui berapa jumlah pihak Quraisy, kedua anak itu menjawab, "Tidak tahu!"

"Berapa ekor ternak yang mereka potong tiap hari?" tanya Rasulullah.

 

"Kadang sehari sembilan, kadang sehari  sepuluh  ekor," jawab mereka.

 

Dengan demikian, Nabi SAW dapat mengambil kesimpulan, bahwa pihak musuh terdiri dari antara 900 sampai 1.000  orang. Juga dari kedua anak itu dapat diketahui  bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy turut serta dalam rombongan tersebut.

Mau  tak mau, kini Rasulullah dan para sahabatnya harus berhadapan dengan sebuah rombongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat dan mempersiapkan mental guna menghadapi pertempuran yang bakal terjadi.

sumber : Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement