Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Cantik di Hadapan Allah SWT

Ahad 19 May 2019 23:09 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Agung Sasongko

Muslimah (ilustrasi)

Muslimah (ilustrasi)

Foto: Prayogi/Republika
Kecantikan bukan dilihat dari pujian orang lain terhadapnya.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Semua yang ada di langit dan bumi merupakan ciptaan Allah SWT, tak terkecuali kecantikan dan ketampanan. Tapi, kecantikan dan ketampanan seseorang dinilai bukan dilihat dari pujian orang lain terhadapnya, melainkan terpancar dari dalam hatinya. Semakin baik hatinya, makin terpancar cahaya dari wajahnya. 

"Ada orang biasa saja, namun enak dilihatnya. Apa alasannya? Karena dalam hatinya tidak ada penyakit hati hasad," kata Ummi Makki yang menjadi penceramah dalam Kajian Akhwat di Masjid Jami' Al Ukhuwah, Tangerang, belum lama ini.

Dia pun mengimbau umat untuk berusaha cantik di hadapan Allah. Dengan begitu, secara otomatis kita juga akan cantik di hadapan hamba-Nya. Ummi Maki menyebutkan, ada beberapa cara agar kita makin cantik di hadapan Allah. Di antaranya, kumpulkan kebaikan dan jauhkan maksiat. 

"Misalnya, ketika seseorang berbuat baik, semakin banyak berbuat baik semakin banyak pancaran yang didapat. Sebaliknya, satu kali kemaksiatan dil kukan, wajahnya akan menjadi gelap sekaligus menghilangkan satu kenikmatan," jelasnya. 

Contoh nyata hilangnya kenikmatan karena maksiat, yakni kisah Nabi Adam AS. Beliau diturunkan dari surga karena melanggar perintah Allah. Allah meme rin tahkan Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa supaya tidak mendekati pohon buah Khuldi. Tak patuh pada Sang Khalik, Nabi Adam dan Siti Hawa malah bermaksiat dengan memakan buah tersebut.

"Allah pun marah, lalu menurunkan keduanya dari surga yang penuh kenikmatan ke dunia. Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi tidak berdua, melainkan dipisahkan berjauhan," tutur Ummi Maki. 

Meski begitu, lanjut dia, Nabi Adam AS tak mengeluh, tapi terus berintrospeksi diri. Lewat doanya, Nabi Adam menyadari hukuman yang diberikan kepadanya memang karena kesalahannya. "Jadi, kalau kenikmatan kita hilang atau kita kesakitan, jangan ujug-ujug menyalakan Allah. Introspeksi diri, bisa jadi kita yang menyusahkan diri sendiri," tutur nya. 

Ummi Maki menambahkan, jangan kotori hati dengan hasad. Dia menilai, orang yang memiliki hasad dihatinya tak akan mempunyai pancaran cahaya ke cantikan. 

Ia menyebutkan, ada tiga tingkatan hasad. Pertama, tidak senang bila meli hat orang lain mendapat kenikmatan. Ke dua, berangan-angan supaya kenikmatan orang lain sirna. Tingkatan ketiga dalam hasad, yakni berusaha menghilangkan kenikmatan dari diri orang lain.

"Ini hasad tingkat tinggi, contohnya gibah. Ketika kita gibah atau membica rakan keburukan orang lain maka yang tadinya masyarakat melihatnya baik bisa menjadi buruk. Jadi, sama saja dengan menghilangkan kenikmatan orang lain," jelas Ummi Maki. 

Dia menuturkan, sesungguhnya hasad ada dalam hati setiap manusia, sehingga kita harus memperbanyak istighfar dan taawuz. Bila hati terus menyimpan hasad, lama-kelamaan bisa muncul sifat sombong atau merasa diri lebih baik dibandingkan lainnya. Kedua sifat tersebut pertama kali dimiliki oleh iblis saat Allah memerintahkannya tunduk pada Nabi Adam AS. Iblis kemudian tidak menaati perintah Allah itu. 

Dalam surah al-A'raaf ayat 11 sampai 12, Allah berfirman, "Sesungguhnya, Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami membentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada malaikat: Bersu judlah kamu kepada Adam maka mereka pun bersujud kecuali iblis, dia tidak meng anggap mereka bersujud. Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu ber sujud (kepada Adam) di waktu Aku menuruhmu? Iblis menjawab: Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." "Jadi, bila orang di hatinya hasad lalu sombong, ini akan semakin menutupi kecantikannya," kata Ummi Maki. 

Selama ini, kata dia, kita lebih sibuk memperhatikan kecantikan jasad diban dingkan kecantikan ruh. Padahal, sama halnya dengan jasad, ruh juga bisa sakit jika tak diistirahatkan. Cara mengistira hat kan ruh, lanjutnya, yakni dengan men dirikan shalat. "Ketika merasa sha lat menjadi beban dan bukan istirahat, berarti ada dosa kita yang belum tertobati karena dosa bisa membuat seseorang sulit berbuat baik," ujar Ummi Maki

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA