Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Debat Capres Cawapres dalam Pandangan Islam

Selasa 19 Feb 2019 15:03 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Andi Nur Aminah

Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum IKADI

Ahmad Satori Ismail, Ketua Umum IKADI

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Dalam Islam, memilih pemimpin harus jelas orangnya, visi-misi dan juga kehidupannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ahmad Satori Ismail menyampaikan pandangan Islam terhadap debat calon presiden dan calon wakil presiden. Ia menjelaskan, dalam Islam, memilih pemimpin itu harus jelas orangnya, visi-misinya, dan juga kehidupannya.

"Kejujurannya, semua aspeknya. Jadi itu dipilih setelah jelas kehidupannya. (Sahabat Rasulullah, Red) Abu Bakar dipilih setelah mereka tahu bahwa dari sisi apapun beliau adalah orang paling hebat setelah Rasulullah, dari sisi kejujurannya luar biasa, sidiq, amanah, fathanah dimilikinya," kata dia, Selasa (19/2).

Baca Juga

Karena itu, menurut Satori, debat di antara kandidat calon presiden dan calon wakil presiden memang diperlukan dalam rangka penyampaian visi-misi. Termasuk menonjolkan apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan.

Maksud debat di sini, kata dia, bukanlah debat yang saling menjelek-jelekkan. "Kalau debat menyerang itu biasanya orang yang menyerang itu tidak punya kemampuan sehingga menyerang lawan debatnya," paparnya.

Namun, bila orang tersebut mampu dan menganggap dirinya layak untuk dipilih rakyat, maka cukup sampaikan kepada rakyat. Rakyat pun harus mengetahui dan mengenal lebih jauh pemimpinnya sehingga jangan sampai memilih tanpa mengetahui visi-misinya.

"Dalam debat, cukup membalas dengan cara yang lebih baik. Jadi bagus sekali kalau ada orang dijelekkan kemudian tidak membalas. Tenang saja, santai, sebenarnya itu. Kita pun sebagai dai kalau ada yang mengajak debat, ya secukupnya saja. Kalau tidak diperlukan ya tak perlu berdebat," jelasnya.

Sebab menurut Satori, debat Pilpres ini pada hakekatnya bukanlah debat antarcapres yang harus sampai mengeluarkan argumen terkuatnya. Tetapi lebih kepada penyampaian visi-misi terkait bagaimana pandangannya dalam menyelesaikan persoalan.

"Keahlian si calon pemimpin kan ingin diketahui sehingga rakyat bisa melihat, apakah yang disampaikan itu benar apa bohong," kata dia.

Dengan begitu, rakyat melalui forum debat bisa mencaritahu apakah data-data yang disampaikan capres-cawapres itu benar atau bohong. Namun, dalam Islam, yang tidak diperbolehkan yakni debat kusir. Bahkan jika dalam kondisi haji, maka debat kusur tersebut bisa merusak ibadah hajinya.

"Kalau debatnya debat kusir itu memang tidak diperbolehkan dalam Alquran. Bahkan kalau di dalam haji itu bisa merusak ibadah hajinya. Kita diperintah untuk tidak saling berbantah-bantahan yang membuat perpecahan," ucapnya.

Satori mengatakan, tentu ketika kandidat capres-cawapres itu menyampaikan sesuatu, akan dicatat oleh umat dan rakyat, bahkan oleh malaikat Raqib dan Atid. Saat yang bersangkutan mendapat amanat dari rakyat untuk menjadi presiden dan wakil presiden, kemudian berkhianat atau tidak melakukan janji-janjinya, maka jelas ancamannya adalah neraka. "Dalam Islam, hakekatnya, ketika sudah berjanji melakukan sesuatu, misalnya A, B, C, D, kalau dilanggar ya sudah. Artinya itu urusannya dengan Allah SWT," ujar dia.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA