Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Saturday, 11 Jumadil Akhir 1440 / 16 February 2019

Berlomba-Lomba Menghapus Tato

Ahad 20 Jan 2019 16:44 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Andi Nur Aminah

Pengunjung melakukan hapus tato (ilusrtrasi)

Pengunjung melakukan hapus tato (ilusrtrasi)

Foto: Republika/Edi Yusuf
IMS memfasilitasi para pemilik tato untuk menghapus tato secara gratis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahad (20/1) menjadi hari bersejarah bagi puluhan warga Bekasi pemilik tato. Pasalnya, mereka secara sadar dan ikhlas rela menahan sakit demi menghapus tato permanen yang menempel di kulit.

Beruntung, program hapus tato yang digelar oleh lembaga Islamic Medical Service (ISM) menggratiskan biaya penghapusan. Sebab, bagi ISM, mempermudah usaha setiap orang yang ingin berhijrah adalah bagian dari membantu sesama Muslim.

Baca Juga

Hudi Asri (36 tahun) merasa beruntung karena tak perlu mengeluarkan biaya jutaan untuk menghapus tato yang ada di pergelangan kaki kanannya. Ia hanya butuh merogoh kocek senilai Rp 350 ribu untuk biaya medical check up. “Alhamdulillah ini niat saya untuk hijrah,” kata warga Tambun itu ketika ditemui Republika.co.id di Islamic Center Kota Bekasi, Ahad (20/1).

Hudi bercerita, awal mula dia menggunakan tato tahun 2013 silam. Saat itu, ia masih tinggal di tanah kelahirannya, Solo, Jawa Tengah. Ketika itu, banyak tetangga Hudi yang menggunakan tato. Berada di lingkungan orang-orang bertato, ia pun tertarik untuk mengikuti kawan-kawannya.

photo

Kegiatan hapus tato (ilustrasi)

Menurutnya, tato bagian dari seni yang dari tahun ke tahun tak pernah kehilangan peminat. Namun, tiga tahun berselang, Hudi mulai berpikir untuk membersihkan tato yang sudah ia buat. Alasannya, ia mulai risih karena tato di kakinya banyak menghambat kegiatan Hudi. Dimulai dari melamar pekerjaan hingga dalam dunia pertemanan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghapus tato, hanya saja, tak kunjung hilang. “Mau melamar kerja susah. Terus, dipandang orang juga miring,” kata dia.

Memasuki 2018, ia pergi ke Kabupaten Bekasi untuk bekerja sebagai office boy di sebuah gedung perkantoran. Meski bertato, Hudi akhirnya diterima bekerja. Ia pun akhirnya memiliki tekad kuat untuk menghapus tatonya.

Hampir serupa dengan Hudi, Hamzah (30), memiliki tato karena dulu menjadi anggota anak punk ketika masih remaja. Warga asli Kota Bekasi itu mengaku menggunakan tato sejak 2003 silam. Saat itu ia kerap ditawari dan diajak untuk sama-sama menggunakan tato sebagai salah satu ciri khas anak punk. “Saya pakai lebih dari sekali. Pengen lagi, pengen lagi, karena menurut saya ini seni,” tuturnya.

Lambat laun, Hamzah mengaku mendapat hidayah untuk hijrah dari lingkungan anak punk. Terutama pasca ia menikah 2007 silam. Berkat dukungan dari istri dan orang tua, Hamzah berniat untuk menghapus tatonya. Dorongan juga datang dari kelompok mengaji yang saat ini telah dia rutin ikuti.

Hamzah tertarik bergabung dengan majelis taklim karena kedua orang tuanya sudah sejak dulu rutin ikut pengajian. Ia merasa nyaman berkumpul bersama orang-orang saleh, mengkaji Alquran, dan mengamalkannya setiap hari.

Namun, kurang lengkap rasanya jika tato yang menempel ditubuhnya belum dihapus. Alhasil, dengan niat ikhlas, ia datang bersama istrinya ke Islamic Centre untuk menunaikan niatnya.

Cerita berbeda datang dari Azizah. Anak berusia 13 tahun ini memiliki tato di lengan kanannya. Ibu Azizah, Wilia (52) menjelaskan, putri semata wayangnya itu memakai tato akibat terpengaruh pergaulan.

“Anak saya ini anak baik-baik. Namun, karena saya sempat dirawat empat bulan dan ayahnya sibuk bekerja, Azizah lepas dari kontrol pengawasan,” kata Wilia.

Putrinya pun mengaku tak mengerti apa itu tato. Azizah menggunakan tato sekitar bulan September 2018 ketika masih berusia 12 tahun atau duduk di bangku kelas 6 SD. Ketika Wilia sakit, Azizah pun bergaul dengan bocah-bocah SMP dan tak terawasi.

Tak mengerti apa yang terjadi, Azizah yang berwajah polos tiba-tiba sudah memiliki tato ketika pulang ke rumah. “Ayahnya sampai drop. Kenapa anak saya begini. Kita pakai obat dan cairan sesuai saran tetangga tapi tetap tidak hilang,” ujar Wilia.

photo

Petugas sedang melakukan upaya penghapus tato (ilustrasi)

Kini, Azizah sudah duduk di bangku kelas 1 SMP. Namun, pihak sekolah memintanya untuk segera menghapus tato. Wilia pun mengamini permintaan itu dan berharap, tato Azizah segera terhapus.

Direktur Islamic Medical Service (IMS) Imran Faizin mengungkapkan, mereka menggratiskan biaya hapus tato hanya untuk hari Ahad. Ia menjelaskan, biaya hapus tato di rumah sakit ada yang mencapai Rp 2 juta per sentimeter. Biaya itu amat mahal bagi mereka yang ingin berhijrah.

Lewat program hapus tato yang hanya memungut biaya medical check up, IMS ingin menunjukkan bahwa biaya untuk hijrah tidaklah mahal. Meski gratis, standar keamanan dan pelayanan sama sekali tidak diturunkan.  “Alhamdulillah. Kita banyak dapat sponsor sehingga program ini bisa terlaksana. Kita ingin membantu sahabat hijrah,” ujarnya. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Konflik Lahan di Jambi

Jumat , 15 Feb 2019, 21:07 WIB