Kamis 06 Sep 2018 12:39 WIB

Gempa Lombok dan Titik Balik Spiritualitas

Gempa bumi telah menghadirkan empati dan simpati sesama manusia.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah
Warga korban gempa mengangkat air di Posko Pengungsian Dusun Lendang Re, Desa Lembah Sari, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Kamis (6/9).
Foto: Antara/Ahmad Subaidi
Warga korban gempa mengangkat air di Posko Pengungsian Dusun Lendang Re, Desa Lembah Sari, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Kamis (6/9).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Gempa bumi berkali-kali mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Fenomena ini menjadi perhatian alumni muda Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Majelis Wilayah Korps Alumni HMI (MW KAHMI) Provinsi NTB. Mereka menggelar forum diskusi KAiL ILMU yang mengusung tema Gempa dan Titik Balik Spiritualitas di Kota Mataram pada Rabu (5/9).

Sekretaris Umum MW KAHMI Provinsi NTB, M Zakiy Mubarok mengatakan, Sirojul Hadi salah satu narasumber dalam diskusi menegaskan bawah gempa bumi menjadi bukti untuk manusia. Fenomena gempa bumi membuktikan tidak ada instrumen apapun dari manusia yang mampu membatasi dan menepis kehendak Allah SWT.

"Sejauh yang bisa dilakukan manusia adalah memprediksi, prediksi manusia bisa benar, bisa juga salah, hal inilah yang menuntut kewajiban manusia untuk selalu beristigfar," kata Zakiy kepada Republika.co.id, Kamis (6/9).

Ia menerangkan, di saat yang bersamaan fenomena gempa bumi di Pulau Lombok dan Sumbawa telah menumbuhkan kreasi dan sikap kritis manusia. Berpikir kritis tentang apa yang terjadi. Sebab berdasarkan pengamatan narasumber, selama ini seringkali manusia skeptis dengan kejadian atau peristiwa alam.

Sirojul juga berkeyakinan gempa bumi bukanlah sebuah azab bagi orang orang yang beriman. Penduduk NTB mayoritas pemeluk agama Islam. "Tidak boleh kita mengatakan itu sebagai sebuah azab apalagi dikaitkan dengan politik atau menariknya ke dalam konteks yang tidak relevan," ujarnya.

Sirojul melihat gempa bumi telah menghadirkan empati dan simpati sesama manusia dari berbagai penjuru. Oleh karena itu berharap semangat empati antar sesama manusia yang lahir pascagempa bumi bisa terus berlangsung sebagai nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Narasumber diskusi lainnya, Muhtar Sakra Mukti mengatakan, sekali manusia merusak mata rantai alam artinya sudah memotong hukum Allah SWT. Dalam hal ini seringkali ada kekosongan agama dalam ilmu pengetahuan. Kekosongan inilah yang sering menyebabkan manusia sulit mengambil hikmah.

Muhtar mengungkapkan, ada beberapa hal yang secara langsung disaksikan selama menjadi relawan korban gempa bumi. Di salah satu lokasi terdampak gempa bumi, beberapa bukit yang dijadikan lokasi pariwisata banyak yang rusak atau longsor. Bahkan sejumlah jalur pendakian ke Gunung Rinjani banyak yang tertutup karena longsor.

"Bisa jadi fenomena itulah yang menjadi sebab adanya keinginan agar pariwisata tidak boleh terlepas dari kearifan lokal, namun pertanyaannya, jika gempa dikaitkan dengan hal itu, apakah musibah itu hanya di alami Pulau Lombok?," ujarnya.

Dia juga menyampaikan, dengan adanya gempa bumi, tidak ada lagi batas antara masyarakat yang kaya dan miskin. Karena saat gempa bumi semuanya lari mencari keselamatan. Semua berada dalam titik yang sama, dalam kondisi seperti itu tidak ada lagi status sosial.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement