Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

Sunday, 14 Ramadhan 1440 / 19 May 2019

Ada Riset Teliti Kata Halal di Media Sosial, Ini Hasilnya

Kamis 30 Nov 2017 15:30 WIB

Rep: Umi Nur Fadillah/ Red: Agung Sasongko

Sosial Media

Sosial Media

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Qatar Computing Research Institute (QCRI) bermitra dengan Ecole Nationale Superieure d'Informatique di Aljazair dan Universitas Indonesia meneliti kata halal di media sosial Instagram. Penelitian itu menemukan lebih dari 1,3 juta pos #Halal di Instagram tidak eksklusif berhubungan dengan konteks religius.

Taggar #Halal di Instagram diidentikkan dengan gaya hidup terkait industri kesehatan dan fesyen di seluruh dunia. Penulis utama QCRI Yelena Mejova mengatakan penelitian memusatkan analisis pada populasi berbahasa Inggris, Arab, dan Indonesia.

Ia menjabarkan bahasa Inggris menyebutkan #Halal untuk konsep makanan dan kesehatan, bahasa Indonesia lebih berfokus pada kosmetik dan kesehatan. Sementara referensi bahasa Arab mencakup subtopik seputar fesyen dan teknologi.

Dilansir dari The Peninsula Qatar, data penelitian merupakan percakapan global seputar konsep halal, terutama dari sudut pandang generasi millenial. Pada 2016, penulis Shelina Jannmohamed menggambarkan kaum muda Muslim merangkul modernitas dan kepercayaan.

Penelitian tersebut menemukan kaum muda cenderung memilih produk halal, sisi Muslim sadar gaya dan kesehatan. Sementara sisi non Muslim menghubungkan halal dengan konsep vegan, vegetarian, dan organik.

Secara tradisional, halal merupakan hal atau barang yang diperbolehkan secara Islami. Hal itu berlaku untuk produk, termasuk makanan dan minuman. Halal menjadi definisi gaya hidup keren di antara pengguna media sosial, kata Mejova.

Data itu menyoroti posting Instagram yang mendapat respon suka (like) promosi pertunjukan fesyen halal, budaya halal, film halal, dan gaya hidup halal. Mejova menyebut posting ihwal suatu produk telah memiliki sertifikasi halal, malah mendapatkan sedikit like. Namun, ia tidak menyebut atau menjabarkan alasan produk bersertifikasi halal kurang mendapat respon suka dari pengguna Instagram.

Mejova menyoroti taggar #halal tidak terkait dengan demografi populasi Muslim yang tinggal di berbagai negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Pemahaman halal berubah di semua tempat. Di media sosial, tampaknya telah diperluas memasukkan (halal pada) elemen gaya hidup, jelasnya.

Mejova meyakini temuannya berguna bagi pembuat kebijakan, produsen produk halal, profesional kesehatan, dan ilmuwan agama tentang cara memasarkan barang halal secara efektif. Ia berencana mengeksplorasi penelitian mengaitkannya dengan budaya dan perilaku terhadap kesehatan. Ia optimistis hal itu membantu merancang kampanye kesehatan lebih baik.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA