Rabu 13 Sep 2017 15:00 WIB
Kisah Inspiratif

Pembawa Pesan Rasulullah

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir
Foto: saharamet.org
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Zaid bin Asim dan istrinya, Ummu Ammarah, menjalani kehidupan yang bahagia. Keduanya memiliki anak bernama Habib. Ketiga orang ini kelak dikenal sebagai pembela Islam yang gigih. Mereka pergi ke Makkah untuk bersyahadat, mengakui keesaan Allah dan Muhammad sebagai utusan Ilahi.

Ikrar itu disampaikan di Agabah dalam kegelapan malam. Habib yang masih kecil mengulurkan tangan kecilnya dan berjanji setia kepada Ra sulullah. Habib harus melaksanakan apa yang diperintahkan dan diarahkan sang Nabi.

Setelah berislam, Habib belum meng ikuti Perang Badar, karena masih terlalu muda. Dia juga tidak memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam Pertempuran Uhud karena dianggap belum berkompeten memegang senjata.

Meski demikian, Habib selalu mengamati berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam. Harta dan takhta selalu didermakan untuk kepentingan Islam. Bahkan nyawa dikorbankan demi tegaknya risalah Ilahiyah yang meng arahkan manusia kepada kebenaran.

Tantangan tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya dalam berislam. Habib menilai, berjuang demi Islam memang harus total, tidak setengah hati. Bukan hanya harta, tapi nyawa pun harus dikorbankan demi tegaknya Islam.

Pengkhianatan Musailimah Pada tahun kesembilan Hijriyah banyak suku di Semenanjung Arab menemui Rasulullah. Banyak dari mereka memeluk Islam karena kagum dengan ajaran tersebut. Salah satu yang mengagumi Islam adalah Musailimah yang dikenal sebagai utusan Bani Hanilab.

Setelah bertemu Rasulullah dia kembali ke kelompoknya. Musailimah ke mudian mengaku sebagai nabi. Dia ber diri di hadapan orang-orang dan menyatakan dirinya sebagai utusan Tuhan untuk Bani Hanilab sama seperti Allah telah mengutus Muhammad bin Abdullah kepada orang Quraisy.

Ada yang mengikuti ajakan Musailimah. Ada juga yang menolak, kemudian bergabung dengan kelompok Muslim di Makkah dan Madinah. Seiring berjalannya waktu, pengikut Musailimah terus berkembang. Dia semakin mampu mengonsolidasikan masyarakat.

Musailimah kemudian menjelma menjadi pemimpin yang dikagumi banyak orang.

Ketika kelompoknya semakin besar, dia memberanikan diri mengirim surat kepada Rasulullah. Surat itu dibawa oleh utusannya. "Dari Musailimah, utus an Allah kepada Muhammad, utusan Allah. Damai sejahtera bagi kamu.

Saya siap untuk berbagi dengan Anda. Saya akan menguasai se paruh wilayah dan Anda akan me miliki separuh lainnya. " Setelah surat itu dibacakan, Rasulullah kemudian membalas surat Musailimah sebagai berikut. "Atas nama Tuhan, Menguntungkan, Yang Pengasih dan Penyayang.

Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah si penipu. Damai sejahtera siapapun yang mengikuti tuntunan.

Tuhan akan mewariskan bumi kepada siapa pun dari hamba-Nya yang Dia kehendaki dan kemenangan terakhir adalah bagi orang-orang yang berhati- hati dalam tugas mereka. " Surat itu dibawa oleh utusan Musailimah.

Meski sudah dikirimi surat, Musailimah justru semakin gencar menyebarkan ajarannya. Nabi berusaha mencegah Musailimah dengan mengirim kan surat lagi. Kali ini surat itu harus dibawa oleh orang yang memegang te guh Islam. Sosoknya harus yang ber komitmen dan tidak mudah dirayu apa pun. Rasulullah menilai, sosok tersebut adalah Habib.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement