Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Sang Penolak Raja

Kamis 15 Jun 2017 16:21 WIB

Red: Agung Sasongko

Mahkota Raja (Ilustrasi).

Foto:

Namun, sang kakak tak tahu bagaimana peristiwa penolakan itu terjadi. Lalu, seorang pengasuh putra sultan pun berkata bahwa ia mengetahui kisah itu. “Sekiranya diizinkan, saya akan menceritakan seluruh kisah itu,” ujarnya. Ia pun kemudian mengisahkannya kepada kedua putra sultan.

“Gadis putri sang syekh telah menikah dengan seorang pemuda di kampung saya bernama Abu Wada'ah. Kebetulan dia adalah tetangga dekat saya. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis, seperti yang diceritakan Abu Wada'ah sendiri kepada saya,” ujar sang pengasuh.

Abu Wa'dah merupakan salah seorang murid Syekh Sa'id bin Musayyab. Ia tak pernah absen di setiap majelisnyas. Hingga suatu saat, ia tak menghadiri majelis selama beberapa hari. Tak ada kabar datang darinya.

Lalu, ketika Abu Wa'dah telah mendatangi majelis, ia segera mendapat sapaan dari syekh. “Ke mana saja kau wahai Abu Wada'ah?” Tanya syekh.

“Saya sibuk mengurus jenazah istri saya yang meninggal,” jawabnya.

Syekh pun berkata, “Jika kau memberi kabar, pastilah aku akan takziyah dan membantu kesulitamu,” kata syekh.

Abu Wada'ah pun merasa berterima kasih atas kebaikan syekh. Saat majelis telah usai, syekh kembali menyapanya. Ia meminta Abu Wada'ah duduk sejenak untuk berbincang.

“Apa kau tak berpikir untuk menikah lagi?” Tanya syekh.

Mendengarnya tentu Abu Wada'ah terkejut. “Semoga Allah merahmati Anda wahai Syekh. Siapa yang mau menikahkan putrinya dengan saya sementara saya ini hanyalah pemuda yatim dan hidup dalam kondisi fakir. Aku hanya memiliki harta dua atau tiga dirham,” ujarnya.

Namun, jawaban Syekh sangat mengejutkan, “Aku akan menikahkanmu dengan putriku,” ujarnya.

Abu Wada'ah tentu saja heran bukan kepalang. Ia sangat kaget mendengarnya. “Anda wahai syekh? Anda berkenan menikahkan putri Anda denga saya sementara Anda tahu betul kondisi saya?” Tanyanya tak percaya.

Namun, syekh menjawab santai, “Ya benar. Jika ada seorang datang dan saya menyukai agama dan akhlaknya maka saya akan menikahkan putri saya dengannya. Dan, kau adalah orang yang saya sukai agama dan akhlaknya,” jawab syekh.

Putri syekh pun kemudian menikah dengan Abu Wada'ah. Dalam membangun rumah tangga, syekh selalu siap membantu rumah tangga putri dan murid kesayangannya.

Mendengar kisah Abu Wada'ah itu, para putra sultan pun terkejut. “Orang itu sungguh mengherankan,” uajr si bungsu tak habis pikir dengan sikap Syekh Sa'id. Tapi, si pengasuh yang bercerita menimpali, “Apa yang mengherankan wahai tuan? Syekh memang manusia yang menjadikan dunia hanya sebagai kendaraan dan perbekalan untuk akhirat. Demi Allah, bukan karena beliau tak suka putra amirulmukminin. Hanya saja, syekh memandang A Walid tak sebanding dengan putrinya. Syaih hanya khawatir putrinya akan tergoda dengan fitnah dunia,” ujarnya.

Si pengasuh pun melanjutan kisahnya bahwa syekh pernah ditanya mengapa menolak pinangan amirulmukminin dan justru memilih menikahkan putri dengan seorang awam yang miskin. Dengan mantap, syekh menjawab, “Putriku adalah amanat di leherku maka kupilihkan apa yang sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya. Bagaimana pendapat kalian jika ia pindah ke istana Bani Umayyah lalu bergelimang harta? Bagaimana keteguhan agamanya nanti?” Jawab Syekh.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA