Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Ini Makna Jihad Sesungguhnya Menurut Zakir Naik

Senin 03 Apr 2017 13:57 WIB

Rep: Yulianingsih/ Red: Teguh Firmansyah

Dr Zakir Naik tampil dihadapan ribuan jamaah pada acara Dr Zakir Naik Indonesia Visit 2017.

Dr Zakir Naik tampil dihadapan ribuan jamaah pada acara Dr Zakir Naik Indonesia Visit 2017.

Foto: Republika/Edi Yusuf

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Tokoh Islam internasional Dr Zakir Naik mengatakan, ada satu kata dalam Islam yang sering disalahartikan, yaitu kata jihad. "Kata jihad banyak disalahpahami tak hanya oleh orang Muslim, tetapi juga non-Muslim," ujarnya saat menjadi pembicara pada public lecture di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (3/4)

Menurut dia, jihad itu bukan berarti perang. Jihad itu berasal dari kata jahada yang berarti berusaha dan berjuang bersungguh-sungguh untuk memperbaiki masyarakat.

Jihad, kata dia, juga berarti berusaha bersungguh-sungguh untuk menjadi menjadi Muslim yang baik. "Makna utama jihad adalah bersungguh-sungguh dan berusaha. Karenanya bukan hanya muslim saja yang berjihad tetapi juga orang diluar Islam juga melajukan jihad jika mereka bersungguh-sungguh dalam suatu bidang," katanya.

Alquran, menurut dia, telah mengajarkan umat Islam untuk berbuat baik, termasuk pada orang tua. Tetapi, kalau ada yang mengajarkan berbuat tidak baik maka itu adalah jihad fisabil syaiton. Namun, jihad yang dilakukan untuk kebaikan namanya jihad fisabilillah.

"Kata jihad di terjemahkan oleh orientalis sebagai holiwar atau perang. Tetapi, perang suci ini digunakan pertama kali oleh orang Nasrani pada Perang Salib," katanya.

Media internasional, kata dia, mengasosiasikan Islam sebagai fundamentalis. Padahal, mereka tidak tahu makna fundamentalis itu. "Fundamentalis ini berarti memahami dengan baik prinsip dan ilmu. Fundamentalis itu orang yang berpegang teguh pada paham ajarannya kitab sucinya, apa pun agamanya," katanya.

Tetapi, kata dia, kata fundamentalis sering diartikan dengan kata ekstremis. Ia berpendapat tidak ada yang salah dengan kata ekstremis atau fundamentalis. "Saya seorang ektremis dalam hal positif. Anda tidak boleh menjadi orang fundamentalis yang salah arah," ujarnya.

Ia menambahkan, banyak juga yang mengatakan Islam adalah agama yang intoleran. "Betul tetapi intoleran terhadap prostitusi, kejahatan, kemiskinan, dan lain-lain," ujarnya.

Islam, kata dia, sangat tidak toleran terhadap ketidakadilan dan rasisme. Saat ini, dia menambahkan, media internasional tidak menginginkan perdamaian (agama Islam) untuk tersebar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA