Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Etika, Pembeda Politik Islam

Kamis 12 Nov 2015 11:00 WIB

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Indah Wulandari

Atribut PKB dipasang di kawasan Muktamar PKB

Atribut PKB dipasang di kawasan Muktamar PKB

Foto: c54

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pembeda politik Islam dengan yang lain adalah etika.

''Mungkin praktik politik Islam dengan yang lain beda tipis. Yang membedakan politik Islam dengan lain adalah etika,'' kata aktivis politik Islam Jurhum Lantong Jurhum dalam diskusi ekonomi politik Islam, Rabu (11/11).

Ia mencontohkan melalui tokoh Islam, M Natsir yang pernah dihadapkan pada nasionalisasi peninggalan Belanda dan Jepang. Natsir tidak tergoda menjadi pemilik aset itu.

Natsir juga mempersilakan untuk menggunakan nama Tjipto Mangunkusumo untuk rumah sakit peninggalan Belanda ketimbang namanya. Jurhum pun mengemukakan bukti lainnya bahwa tak ada tokoh Islam yang punya kavling di area bekas Belanda di Menteng.

Ia menilai demokrasi perlu unsur ilahiah karena kebenaran bukan dari massa tapi pemimpin yang tercerahkan. Kekuasaan yang dibungkus pencitraan membuat banyak hal terbalik.

“Kajian intelektual politik Islam harus dilahirkan karena jangan sampai perwakilan rakyat tidak mengerti konsekuensi sebuah amanah,” tegas Jurhum.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA