Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Catatan 2014

Terjadi Pemurtadan, Jumlah Muslim Menurun

Rabu 31 Dec 2014 11:51 WIB

Rep: c16/ Red: Mansyur Faqih

Yunahar Ilyas

Yunahar Ilyas

Foto: Yulianingsih/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas mengkhawatirkan jumlah umat muslim Indonesia yang kian tahun terus menurun. Terutama dari pemurtadan dari keyakinan lain. 

"Yang sangat mengkhawatirkan sekarang ini adalah presentase umat Islam di Indonesia sudah sangat menurun," kata Yunahar saat dihubungi ROL.

Menurut catatan statistik kementerian agama, Yunahar mengungkapkan, jumlah umat Islam saat ini sekitar 207 juta dari populasi yang sebanyak 250 juta jiwa. 

Berarti, kata dia, jumlah umat Muslim di Indonesia hanya sekitar 83 persen. Padahal pada era setelah kemerdekaan, jumlah penduduk muslim Indonesia ada 95 persen. 

Karenanya, kata Yunahar, pemerintah perlu mengkaji secara serius penurunan yang salah satu penyebabnya yaitu pemurtadan.

Ia pun menyoroti masalah pemurtadan seperti terlihat dari video yang beredar pada 3 November lalu. Video yang diunggah melalui Youtube tersebut memerlihatkan proses pemurtadan yang terjadi di ajang Car Free Day Jakarta

Yunahar mengatakan, penyebaran agama upaya pemurtadan dapat digolongkan ke dalam tindak kriminalitas. Namun, selama ini tidak ada aturan dan pasal-pasal yang mengatur mengenai aksi penyebaran agama seperti itu. 

Pada dasarnya, Yunahar menjelaskan, setiap agama mempunyai misi untuk menyebarkan agama. Namun, tidak dibenarkan melakukan penyebaran dengan cara yang tidak benar. 

Misalnya, ia mencontohkan, pertolongan bantuan terhadap korban bencana yang kemudian disusupi misi pemurtadan.

Yunahar memperkirakan, kalau isu pemurtadan tidak diperhatikan, maka dalam 50 tahun umat Islam tidak akan menjadi mayoritas mutlak di Indonesia. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA