Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Organisasi Medis di Lingkungan Topkapi

Rabu 17 Apr 2019 17:47 WIB

Red: Agung Sasongko

Istana Topkapi di Istanbul, Turki.

Istana Topkapi di Istanbul, Turki.

Foto: visit2istanbul.com
Dokter dari sejumlah rumah sakit bekerja untuk kalangan istana Topkapi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lingkungan istana Turki Usmani tak melulu didominasi bangunan tempat tinggal bagi penguasa. Ada fungsi lain yang lahir dari pusat kekuasaan tersebut.

Ada sekolah dan rumah sakit. Diperkenalkan pula organisasi kesehatan istana. Paling tidak, praktik ini berlangsung di Istana Topkapi yang didirikan oleh Sultan Mehmed, Sang Penakluk, pada 1476.

Profesor Nil Sari dari Istanbul University Cerrahpasa dan Ali Hadar Bayat, profesor dari Ege University, dalam tulisannya, The Medical Organization at the Ottoman Court, mengungkapkan sejumlah rumah sakit dan apotek tegak di Topkapi. Rumah sakit yang biasa disebut dengan Chamber of Patients ini berada di sebelah kanan gerbang istana.

Bagi para pengawal, rumah sakit khusus ini diperuntukkan bagi para pengawal istana. Di tempat yang sama, para tukang kebun berhak berobat di sana. Mereka mengembangkan perkebunan yang hasilnya untuk konsumsi di kalangan dalam serta warga di luar istana. Gedung untuk pengobatan itu berlo kasi di sepanjang pantai dekat istana.

Bukan tanpa tujuan, keberadaan rumah sakit di sana guna menampung para pengawal yang jatuh sakit kala menjalankan tugas mengamankan pantai dan perairan Bosphorus. Perhatian atas kesehatan para perempuan peng huni istana tak diabaikan. Sebuah rumah sakit berlantai dua didedikasi kan kepada mereka. Dilengkapi juga dengan asrama di tiap lantainya dan ruangan bagi pegawai perempuan.

Fasilitas lainnya, apotek, dapur, kamar mandi, serta binatu. Lebih jauh, Sari dan Bayat menjelaskan, Istana Top kapi dikelilingi tembok luar bermenara. Dengan demi kian, bagian dalam atau ba gian privat yang disebut dengan enderun sedangkan bagian luar dinamakan birun. Para profesional di bidang medis ditempatkan di bagian luar.

Mereka terdiri dari orang-orang yang menguasai ke ahlian berbedabeda. Ada yang pakar di bidang pembedahan, mata, dan tulang. Jumlah dokter Muslim yang dipe kerjakan di istana setiap tahunnya berubahubah. Kisarannya antara 11 hingga 36 orang. Bila sangat diperlukan, pihak istana mengundang dok ter ternama dari luar negeri, seperti dari Mesir dan Iran.

Bukan hanya dokter Muslim yang berada di lingkungan istana. Beberapa dokter Yahudi dan Kristen terutama dari Eropa berkesempatan melaku kan pengobatan. Tak ada hambatan bagi mereka mengobat pasien Muslim. Banyak dokter Yahudi dan Muslim dari Semenanjung Iberia yang ber keinginan bekerja untuk Pemerintah Turki Usmani.

Pada permulaan abad ke-17, dokter Yahudi mencapai angka 63 orang. Mereka memang hanya untuk memberikan pengobatan dan tidak ikut dalam pengembangan kemajuan di bidang kedokteran. Selain dipekerjakan di Top kapi, para dokter ditugaskan di tempat lainnya, seperti di Galata Sarayi, sekolah istana, dan Istana Edirne serta Bursa. Mereka pun ditempatkan di markas dan benteng militer.

Tak heran jika dokter istana minimal bekerja di dua tempat, misalnya, di rumah sakit istana dan Sekolah Medis Su leymaniye. Mereka yang bekerja di istana umumnya berasal dari sebuah rumah sakit seperti Rumah Sakit Fatih atau Bayezid. Gaji yang mereka peroleh pun bersumber dari institusi-institusi tersebut. Kebanyakan dari mereka diambil dari Sekolah Medis Suleymaniye.

Di sisi lain, banyak ahli bedah yang menjalankan praktik di istana. Mereka bekerja di kantor-kantor terkait. Tak jarang mereka dibagi ke dalam beberapa divisi. Ada beberapa yang bekerja di bagian militer atau sipil, tergantung pada kebutuhan. Selain itu, kebutuhan atas tenaga mereka didasarkan pada permintaan bagian dalam atau luar istana dan keadaan perang atau damai.

Tapi, memang lebih banyak ahli bedah yang dialokasikan di institusi militer dibanding kan di tempat lainnya. Sedikit juga yang bekerja di Istana Edirne dan Bursa. Para ahli bedah juga dokter mata men jadi anggota komunitasnya yang disebut dengan ahli-hirfa. Komunitas ini juga berfungsi sebagai tempat pelatihan para ahli bedah sebelum mereka diizinkan ke istana.

Pada akhir abad ke-16, tercatat sebanyak 113 dokter bedah dan mata bergabung dalam organisasi profesi tersebut. Ini merupakan jumlah yang lumayan besar. Oleh karena itu, praktik mereka tak sebatas di istana. Tinggi atau rendahnya pendapatan mereka ditentukan oleh senioritas, efisiensi, dan tingkat tanggung jawab yang mereka pikul.

sumber : Mozaik Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA