Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Imam Syafii, Nasab, dan Profil Intelektualnya

Senin 25 Mar 2019 14:25 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) Imam Syafii merupakan seorang ulama penting dalam sejarah peradaban Islam.

(Ilustrasi) Imam Syafii merupakan seorang ulama penting dalam sejarah peradaban Islam.

Foto: Wordpress.com
Imam Syafii masih satu kabilah dengan Rasulullah Muhammad SAW.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Syafi'i merupakan salah satu pakar fikih yang paling terkemuka dalam sejarah peradaban Islam. Bersama dengan Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hambali, dia termasuk empat imam besar mazhab fikih. Umat Islam di Asia Tenggara banyak yang melaksanakan mazhab Imam Syafi'i.

Baca Juga

Menurut para sejarawan, ahli nasab, dan pakar hadis, Imam Syafi'i masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah SAW. Secara khusus, Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka.

Ulama legendaris ini bernama lengkap Muhammad bin Idris bin al-`Abbas bin `Utsman bin Syafi` bin as-Saib bin `Ubayd bin `Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin `Abdu Manaf bin Qushay. Jika diurut, secara nasab sang imam bertemu dengan nasab Rasulullah SAW dari Abdu Manaf bin Qushay.

Ayahnya Imam Syafi'i bernama Idris. Pria itu merupakan seorang miskin yang berasal dari daerah Tibalah--daerah Tihamah dekat Yaman. Imam Syafi'i lahir pada 150 H/ 767 M. Ada dua pendapat tentang kota kelahiran sang imam. Sebagian sejarawan meyakini Imam Syafi'i lahir di Gaza, Palestina, namun sebagian lain berpendapat dia lahir di Asqalan--sebuah kota tak jauh dari Gaza.

Menurut Ibnu Hajar, Imam Syafi'i lahir di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Para sejarawan juga mencatat, kelahiran Imam Syafi'i hampir bersamaan dengan wafatnya seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah. Keduanya sama-sama ulama besar yang populer dan sangat berjasa bagi pengembangan agama Allah SWT.

Saat masih kecil, Imam Syafi'i sudah menjadi anak yatim. Ketika berusia dua tahun, sang ibu membawanya ke Makkah, tanah air nenek moyang. Sejak kecil, Imam Syafi'i sudah menunjukkan kecerdasannya. Dia terbilang pandai, sehingga sangat cepat menghafal syair, tangkas berbahasa Arab, dan sastra. Kepandaiannya dalam sastra juga mendapat pujian dan pengakuan.

Imam Syafi'i adalah ulama yang tak pernah berhenti belajar. Ia rela melanglang buana mencari ilmu agama ke berbagai kota penting di dunia Islam. Kota Makkah menjadi kota pertama tempat menimba ilmu sang imam. Di kota nenek moyangnya itu, ia menimba ilmu fikih dengan berguru kepada seorang Mufti bernama Muslim bin Khalid Az Zanji.

Dia sangat menyenangi ilmu fikih. Selain belajar dari Mufti Makkah, Imam Syafi'i pun berguru kepada Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, Muhammad bin Ali bin Syafi', Sufyan bin Uyainah, Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa'id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl, dan banyak yang lainnya.

Kemampuannya dalam ilmu fikih sudah diakui, meski ia baru beberapa tahun mengikuti halaqah dari para ulama besar di Makkah. Ketertarikannya dalam bidang fikih membuatnya memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Di kota tujuan hijrah Rasulullah SAW itu, Imam Syafi'i berguru kepada Imam Malik bin Anas.

Ia berhasil menghafal Kitab Muwattha' dari Imam malik hanya sembilan malam. Imam Syafi'i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl, dan pamannya Muhamad bin Syafi'. Kecerdasan Imam Syafi'i membuat Imam Malik begitu mengaguminya.

Sang imam pun begitu mengagumi dua orang gurunya, yakni Imam Malik dan Sufyan bin Uyainah. "Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz," cetus Imam Syafi'i. "Bila datang Imam Malik di suatu majelis, Malik menjadi bintang di majelis itu."

Setelah berguru di Madinah, Imam Syafi'i pun hijrah ke Yaman--tanah leluhur dari sang ibu. Ia sempat bekerja di kota ini. Ia mendatangi sederet ulama yang ada di kota Yaman, seperti Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli, dan banyak lagi kota yang lainnya.

Dari Yaman, ia melanjutkan pencarian dan penyebaran ilmunya ke kota Baghdad, Irak. Di metropolis intelektual dunia itu, ia belajar ilmu fikih dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fikih di Irak. Selain itu, ia sempat berguru dari Isma'il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Imam Syafi'i bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal di Makkah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi'i menimba ilmu fikih, ushul mazhab, serta penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi'i menulis mazhab lamanya (mazhab qodim). Kemudian, beliau pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan mazhab baru. Ia wafat di Kota Fustat--Kairo Tua--pada akhir bulan Rajab 204 H/819 M. Dedikasinya dalam menyebarkan agama Allah SWT, hingga kini tetap dikenang umat Islam di seantero dunia.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA