Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

KH Mas Mansur, Tokoh Muhammadiyah yang Pejuang Bangsa (1)

Selasa 19 Feb 2019 05:26 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(ilustrasi) gambar KH Mas Mansur

(ilustrasi) gambar KH Mas Mansur

Foto: tangkapan layar google image
Dia lahir di Surabaya dari pasangan Kiai Mas Ahmad Marzuki dan Raulah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada banyak ulama berwawasan modernis pada permulaan abad ke-20 di Tanah Air. Di antaranya adalah KH Mas Mansur. Dia lahir di Surabaya pada 1896. Namanya dikenang sebagai Ketua umum PP Muhammadiyah periode 1937-1941.

Silsilahnya termasuk kalangan agamawan. Ibundanya, Raulah, merupakan keturunan pendiri Pesantren Sidoresmo, Wonokromo. Adapun ayahnya, KH Mas Ahmad Marzuki, merupakan imam dan khatib di Masjid Agung Ampel Surabaya. Kiai Mas Ahmad tergolong bangsawan dari Astatinggi, Madura. Pasangan tersebut dikaruniai 16 orang anak. Adapun Mas Mansur merupakan anak ke-14.

Baca Juga

Hubungan keluarga itu dengan organisasi Muhammadiyah telah terjalin lama. Ayahanda Mas Mansur sendiri bersahabat baik dengan sang pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Pendidikan awal yang diterima Mas Mansyur berlangsung di Pesantren Sawahan. Di samping itu, guru-gurunya pada masa ini terutama ayahnya sendiri dan KH Mas Thoha. Di antara ilmu-ilmu yang ditekuninya adalah tata bahasa Arab. Kelak, kefasihannya berbahasa Arab sangat bermanfaat saat dirinya bermukim di Haramain.

Saat berusia 10 tahun, Mas Mansur belajar di Pesantren Demangan yang diasuh KH Kholil. Sosok sepuh itu merupakan ulama yang sangat masyhur di seantero Jawa-Madura. Banyak murid KH Kholil yang kemudian menjadi ulama besar.

Luasnya cakrawala keilmuan tokoh asal Bangkalan tersebut begitu tersohor. Dia pakar ilmu-ilmu nahwu, sharaf, sastra, fiqih, hingga tasawuf. Di Pesantren Demangan, Mas Mansur juga menekuni kitab Alfiyah Ibnu Malik.

Belum puas belajar di sana, Allah telah menakdirkan, KH Kholil wafat. Selang beberapa waktu kemudian, keluarga Mas Mansur memutuskan untuk membawa putra tercintanya itu pulang ke Surabaya.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA