Senin 11 Jan 2016 21:56 WIB

Hubungan dengan Ottoman Pengaruhi Pandangan Swedia terhadap Islam

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko
Kunjungan Sultan Ustmaniyah, Reshad di Balkan.
Foto: worldbulletin.com
Kunjungan Sultan Ustmaniyah, Reshad di Balkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ottoman Islam bukan hal baru bagi negara monarki ini. Selama paruh kedua abad ke- 17 dan awal abad ke-18, konstelasi politik Swedia membuat mereka harus menjalin hubungan dengan Islam. Jonas Otterbeck dalam "The Depiction of Islam in Sweden", The Muslim World 2002, menuturkan, pesaing politik terkuat Swedia waktu itu datang dari Rusia.

Satu-satunya kekuatan besar yang dianggap bisa diajak berkoalisi adalah Kekhalifahan Turki Utsmani. Maka, pada 1657, atas perintah Raja Karl X Gustav, berangkatlah seorang duta besar Swedia ke Istanbul guna mendapatkan dukungan penguasa Ottoman.

Hubungan keduanya semakin intim ketika Swedia meminta suaka dari Ottoman. Pada 1709, tentara Swedia meng alami kekalahan telak dalam pertempuran di Poltava. (Baca: Atur Ketat Imigran, Swedia Cemaskan Identitas Muslim Imigran)

Selama lima tahun, Raja Karl XII menghabiskan waktu di bawah perlindungan Ottoman sebelum kembali ke Swedia. Sebagai balas budi, Muslim dan Yahudi yang datang ke Swedia dari Kekaisaran Ottoman sejak 1718 mendapat jaminan bebas mempraktikkan agama mereka.

Kontak antara Swedia dan Ottoman terus menerus terjalin sepanjang abad ke-18. Di antara kaum elite Swedia, ada orang-orang yang mengagumi peradaban Ottoman. Studi Turki dan Persia didorong oleh kerajaan.

Kedutaan Swedia didirikan di Istanbul yang konon masih ada di samping Mevlevi hanesi di Istaklal Caddesi. Swedia ada lah kerajaan yang membutuhkan dukungan dari Ottoman. Relasi ini sangat memengaruhi pandangan rakyat Swedia terhadap Muslim.

Multikultural Situasi kemudian berubah pada abad- abad berikutnya. Ottoman runtuh. Kini, imigran Muslim dari Asia dan Timur Tengah yang mencari suaka ke Swedia.  Muslim pertama yang tercatat di Swedia adalah etnis Tatar Finlandia. Mereka bermigrasi dari Finlandia dan Estonia pada 1940-an.

Populasi Muslim Swedia meningkat secara signifikan selama kuartal terakhir abad ke-20. Dari hanya beberapa keluarga pada 1950, melonjak ke angka ratusan ribu pada akhir 1980-an. Eksistensi komunitas Muslim mulai kokoh setelah masuknya migran asal Timur Tengah pada 1970-an.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement