Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Tuesday, 15 Syawwal 1440 / 18 June 2019

Puasa Itu Menyuburkan Rohani (2-Habis)

Selasa 21 May 2019 16:13 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Pendiri pesantren Nusantara di Kota Moodus, Connecticut, AS, Shamsi Ali

Pendiri pesantren Nusantara di Kota Moodus, Connecticut, AS, Shamsi Ali

Foto: dok. Shamsi Ali
Puasa berarti melatih sisi rohani manusia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Puasa secara khusus penuh dengan nilai-nilai spiritualitas (ruhiyah). Makan sahur itu bukan sekedar makan pagi. Tapi sebuah amalan ibadah yang padanya dijanjikan barakah.

“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu ada barokah” (hadits).

Baca Juga

Barakah itu adalah nilai yang bersentuhan langsung dengan Allah (Tabaraka). Sehingga dengan sendirinya merupakan “penguatan ruh” yang memang langsung dari Allah (ruhina).

Singkatnya semua amalan yang terjadi di Bulan Ramadan, sholat-sholat sunnah, baca Al-Quran, tarawih dan qiyaam, hingga kepada sadaqah dan bahkan tidur sekalipun bernilai spiritualitas.

Puasa diakhiri dengan berbuka puasa (iftar). Sebuah amalan yang bukan sekedar makan malam seperti biasanya. Tapi semua amalan yang sarat dengan nilai ruhiyah.

Karenanya, doa berbuka semuanya dikaitkan dikaitkan langsung dengan Ilahi: “untuk Engkau Aku berpuasa, kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu juga aku berbuka puasa. Maka terimalah dariku. Sunnguh Engkau Maha mendengar lagi Maha melihat”.

Karenanya, bulan Ramadan ini harus menjadi momentum yang baik dalam membangun kehidupan ruhiyah yang solid. Kerapuhan nilai-nilai spiritualitas menjadikan manusia terombang-ambing dalam pergerakan  gelombang dunia yang tiada akhir.

Kehidupan materialistis, konsumeris dan hedonistis menjadikan manusia semakin rakus dan kehilangan nuraninya. Akibatnya dalam dunia yang kerap kali diakui sebagai dunia modern yang lebih beradab (civilized) manusia justeru berkarakter biadab. Bahkan lebih biadab dari hewan.

“Mereka bagaikan hewan. Bahkan lebih sesaat dari hewan” (Alquran).

Semoga puasa kita menumbuh suburkan hati dan ruh kita sehingga dorongan dunia yang dahsyat ini mampu terimbangi. Keseimbangan dalam hidup materi (jasad) dan spiritualitas (ruh) inilah yang menjadikan Islam sebagia agama yang unik.

Agama yang membangun kebaikan pada dua aspek kehidupan. Hasanah fid-dunya wa hasanah fil-akhirah. Amin.

 

New York, 20 Mei 2019

*) Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA