Ahad 18 Feb 2018 04:31 WIB

Haji adalah Ibadah, Jaga Akhlak, dan Perbuatan

Buang jauh dan hilangkan dalam hati sifat sombong, angkuh, dan takabbur dalam hati.

Kabah, Masjidil Haram
Foto: Pixabay.com
Kabah, Masjidil Haram

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh:  H Irfansyah Nasution SAg MMp *)

Haji bukanlah hanya bepergian naik pesawat dari bandara Indonesia yang telah ditetapkan pemerintah maupun hingga Bandara King Abdul Azis Jeddah, pesiar, refreshing, shooping atau kegiatan rekreasi lain yang bisa seenaknya saja untuk bertindak dan berbuat.

Haji merupakan bagian dari rukun Islam, haji adalah wajib bagi Muslim yang mempunyai kesanggupan. Haji merupakan sebuah pelaksanaan dari bberbagai rangkaian ibadah yang harus dilakukan, karenanya setiap jamaah haji diharuskan menjaga akhlak dan perbuatan, dan sangat dianjurkan untuk berakhlak yang baik, dari mulai pra berangkat, selama di Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air.

Sebab, pada hakikatnya, orang yang sedang menunaikan ibadah haji, sedang menjalani penggemblengan akhlak. Sehingga, bila ia benar-benar menjalani ibadah ini dengan baik, maka niscaya akan ada perubahan pada kepribadian dan perilakunya.

Ibadah haji yang pertama, berihram, maka ia tidak dibenarkan untuk berkata-kata jelek, berkata kata yang kotor, atau melakukan kezaliman terhadap orang lain, berbuat kerusakan, meninggalkan segala hal yang tidak berguna bagi dirinya, termasuk dalamnya perdebatan yang tidak bermanfaat, terlebih-lebih bila perdebatan tersebut hanya akan mendatangkan timbulnya hal yang tidak terpuji.

Kejahatan dan perbuatan yang tidak terpuji terjadi, disebabkan karena hawa nafsu yang tidak dikendalikan, dan kebodohan ketidaktahuan akan akibat perbuatan atau sifat tersebut. Untuk menghindari akhlak dan prilaku yang tidak baik tersebut, seorang calon jamaah haji harus dari sekarang untuk selalu berprilaku baik, berakhlakul karimah.

Pertama, taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, yakni dengan memperbanyak dzikir dan ibadah kepada Allah SWT. edua, tadabbur, yaitu mengambil hikmah dari seluruh peristiwa perjalanan hidupnya dan menjadikannya semakin taqwa kepada Allah SWT, ketiga, ta’awun, yakni mengembangkan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Sifat yang harus diutamakan dalam berhaji adalah sifat qanaah, ikhlas, yaitu menerima segala sesuatu yang terjadi dan itu semuanya adalah merupakan ketentuan dari Allah dan diridhai-Nya, baik itu sesuai dengan keinginannya ataupun tidak, serta sabar dalam menjalaninya, sabar menerima sunnatullah, sabar menjalankan perintah Allah, sabar meninggalkan laranganNya, sabar menerima kawan sekamar, sabar berdesak desakan, sabar dalam antrian, dan sabar.

Karena itu, buang jauh jauh dan hilangkan dalam hati sifat sombong, angkuh, dan takabbur dalam hati, selalu bertawakkal kepada Allah SWT, dan perbanyak selalu beristigfar kepada Allah SWT, berzikir, Insya Allah perjalanan dan penunaian rangkaian ibadah haji akan lancar, baik, selamat dan selalu mendapat kemudahan dan pertolongan dari Allah SWT, dan meraih haji mabrur.

*) Kasubbag TU Kemenag Madina

 

sumber : kemenag.go.id
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement