Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Masjid Cambridge, Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Eropa

Jumat 24 May 2019 08:50 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Masjid Hijau di Cambridge

Masjid Hijau di Cambridge

Foto: Arab News
Masjid Cambridge menjadi masjid ramah lingkungan pertama

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Masjid ramah lingkungan pertama hadir di Inggris, yaitu Masjid Cambridge Central. Kehadiran masjid diharapkan mampu menginternalisasikan nilai-nilai luhur ramah lingkungan dalam Islam untuk mengatasi perubahan iklim.   

Masjid membuka pintunya pada Mei tepat pada saat puasa Ramadhan. Masjid dihiasi dengan kolom berkisi-kisi, dibalut panel surya, dan dikelilingi pohon apel kepiting, dengan ruang untuk seribu orang dan misi untuk menjadi kekuatan bagi iklim yang baik. 

Baca Juga

"Masjid ini melambangkan hati spiritual komunitas Muslim, itu adalah tempat pusat di mana penyembah terhubung dengan Tuhan," kata pengurus masjid yang juga musisi Cat Stevens dilansir di Reuteurs, Rabu (23/5).

Stevens, yang terkenal dengan lagu-lagu hit "Wild World" dan "Morning Has Broken", menjadi Muslim pada 1970-an dan sekarang dikenal sebagai Yusuf Islam. Dia mengatakan kepada Thomson Reuters Foundation bahwa umat Islam memiliki peran penting dalam mengatasi krisis iklim.  

"Itu (masjid) adalah bagian dari proses pendidikan ulang, menggali lebih dalam sifat Islam yang sebenarnya untuk mengungkapkan keharmonisannya dengan keseimbangan alam semesta," kata Stevens. "Banyak Muslim telah melupakan ini dan tidak berkontribusi cukup untuk krisis iklim saat ini," tutur dia. 

Bangunan senilai 24 juta pound (30 juta dollar AS), yang didanai sebagian besar oleh pemerintah Turki, akan menyambut ratusan jamaah untuk sholat tarawih setiap malam, selama Ramadhan ini. 

Dengan air hujan daur ulang untuk mengairi kebun dan pompa dengan energi panas pemanen, masjid menghasilkan hampir nol emisi karbon.

"Alquran menekankan keindahan dan harmoni dari dunia alami sebagai tanda kekuatan kreatif dan kebijaksanaan Tuhan," kata Ketua Perwalian Masjid dan profesor Universitas Cambridge, Timothy Winter, yang juga dikenal sebagai Abdal Hakim Murad.

"Perjuangan melawan perubahan iklim dan kepunahan massal spesies bukan hanya pertanyaan praktis tentang kelangsungan hidup manusia, tetapi juga pertempuran untuk menghormati dan melindungi hadiah Tuhan."

Langit-langit besar menerangi aula shalat sehingga tidak ada lampu buatan yang dibutuhkan di siang hari, sementara atapnya memakai panel yang mengubah sinar matahari menjadi listrik.

Bukan hanya bangunan yang berwarna hijau. Masjid ini mengikuti prinsip-prinsip Islam yang luas yang mendukung perlindungan lingkungan, kata para pakar iklim Muslim, baik itu perawatan bumi Tuhan atau ajaran suci tentang melestarikan air, menanam pohon, dan melindungi hewan.

"Muslim bisa menjadi kekuatan yang kuat yang dapat dimobilisasi melawan perubahan iklim," kata Shanza Ali, salah satu pendiri Aksi Iklim Muslim, sebuah kelompok advokasi Inggris.

 Bagi Ali, pesan lingkungan tetap tidak akan berhasil bagi 1,8 miliar Muslim yang beragam di dunia, namun pendekatan pluralistik bisa lebih baik menghidupkan kembali hubungan ntara Islam dan lingkungan.

"Proyek-proyek seperti Masjid Cambridge akan menjadi penting dalam meningkatkan kesadaran dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa ini bukan hanya masalah ceruk yang diambil oleh sebagian Muslim, tetapi ini merupakan masalah yang menjadi inti keyakinan kami," katanya.

Pada 2015, para pemimpin agama Islam bersama-sama mendesak umat Islam untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam memerangi perubahan iklim dalam sebuah deklarasi yang disambut baik oleh PBB.  

Cambridge adalah rumah bagi sekitar enam ribu Muslim, banyak dari mereka adalah mahasiswa atau profesional.

“Masjid ini dirancang dengan mempertimbangkan tradisi arsitektur Islam dan lokal,” kata arsitek Julia Barfield dari Marks Barfield Architects, yang bertanggung jawab atas struktur ikonik seperti roda pengamatan London Eye di Sungai Thames. Bangunan itu mengangkat spirits, mengawinkan geometri Islam berornamen dengan bahan-bahan asli Inggris.n Ratna Ajeng Tejomukti

 

 

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA