Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Kisah Kairo yang Harmonis

Senin 20 Mei 2019 23:23 WIB

Red: Agung Sasongko

Sungai Nil yang membelah kota Kairo, Mesir.

Sungai Nil yang membelah kota Kairo, Mesir.

Foto: Republika/Rusdi Nurdiansyah
Keberadaan Kairo bermula dari perluasan wilayah penguasa Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kota yang harmonis. Pujian ini tertulis pada catatan ahli geografi bernama Ibnu Hawkal pada 987 Masehi. Ia menyanjung Kairo, ibu kota pemerintahan Mesir. Ia menyebutkan, luas kota ini tiga kali lipat dibandingkan Baghdad. Jalan yang teduh, taman, serta pasar yang teratur menjadi pemandangan kota ini.

Rumah bertingkat hingga tujuh melengkapi lanskap kota ini. Sekitar 200 orang bisa tinggal di bangunan tersebut. Gambaran keindahan ini diperkaya oleh tulisan seorang pelancong dari Persia, Nasir Khusrow, sekitar 70 tahun setelah Hawkal mengungkapkan pengalamannya berada di sana. Secara tidak langsung, ia menuturkan tingkat teknologi serta seni yang dicapai masyarakat.

Ia mengagumi barangbarang yang diperdagangan di pasar, seperti keramik yang beraneka warna, kaca hijau transparan yang mahal, batu kristal, dan cangkang kura-kura. Ia menyaksikan pula hasil-hasil pertanian yang melimpah. Dalam jumlah besar, buahbuahan, sayur-mayur, serta bunga dijajakan di pasar dan dapat dengan mudah dinikmati warga.

Irene Beeson, koresponden lepas untuk beberapa majalah dan surat kabar Inggris dan Timur Tengah, dalam tulisannya, Cairo: A Millenial, menjelaskan secara harfiah nama Kairo berasal dari bahasa Arab, “qahira”, yang berarti para pemenang. Keberadaan kota ini bermula dari perluasaan wilayah yang dilakukan penguasa Muslim.

Semua bermula pada 8 Agustus 969. Jenderal Gawhar yang bertindak atas kekhalifahan Dinasti Fatimiyah menaklukkan al-Fustat. Dia kemudian memilih daerah di bagian timur laut sebagai istana khalifah yang akhirnya dijadikan ibu kota bernama Kairo. Pembangun an pun dimulai. Ia memakai lonceng yang ditarik dengan seutas tali sebagai pertanda para pekerja memulai aktivitas pembangunan.

Lonceng berbunyi, mereka menggali hingga berwujud kota pemerintahan yang megah. Berdirinya pusat kekuasaan di Kairo disertai dengan perkembang an lainnya. Para seniman, misalnya, berduyun mendatangi kota itu mengadu peruntungan. Banyak bangunan berarsitektur Islam indah bermunculan hingga kota ini disebut sebagai kota seribu menara.

Khalifah Dinasti Fatimiyah al-Muizz memutuskan tinggal di istana yang dirintis oleh jenderalnya itu. Ia pindah ke Kairo. Menurut Beeson, penataaan kawasan istana dan kota sangat mengesankan dan kini masih bisa dilihat di kawasan Bab al-Futuh hingga Bab Zuwayla, serta dari Bab al-Ghu rayyib sampai luar Masjid Al-Azhar di Khalq Street.

Kala itu, di sekitar kawasan itu, terlihat dinding tebal dan tujuh gerbang untuk akses masuk dan jalan keluar. Bagian lainnya adalah sebuah lapangan seluas setengah mil persegi yang disebut dengan rahba. Begitu luasnya, lapangan ini bisa memuat parade 10 ribu tentara. Di sisi timurnya terdapat Istana al-Muizz yang luasnya seperlimanya.

Sejarawan Makrizia memperkirakan, ada sekitar 4.000 kamar di dalamnya. Ruang istana dilengkapi aula dengan pilar dari marmer. Ia menyebutkan, ada aula dengan julukan aula emas yang merupakan sebuah paviliun di mana singgasana berada. Khalifah selalu dikelilingi oleh para pejabat dan pengurus istana. Nasir Khusrow memberikan kesannya. Dari kejauhan tampak seperti gunung menjulang.

Kemegahan arsitektur bangunan istana diungkapkan pula oleh William dari Tirus yang singgah di sana pada 1168 sebagai duta tentara Salib. Dalam catatannya, Istana al-Muizz dipenuhi koridor panjang dan banyak pintu yang dijaga pengawal. Ia melihat ruang pengadilan yang terbuka luas dengan tiang terbuat dari marmer.

Bangunan agung lainnya adalah Masjid Al-Azhar yang dibangun antara tahun 970 dan 972. Meski masjidnya saat ini telah mengalami pemugaran, bentuknya masih dipertahankan seperti awalnya. Dalam masa lima tahun setelah pembangunannya, putra sang khalifah yang bernama al-Aziz mendedikasikan masjid tersebut sebagai pusat belajar.

Langkah tersebut dilestarikan hingga masamasa berikutnya. Al-Azhar menjadi sebuah pusat teologis utama Islam. Para siswa dari seluruh dunia berdatangan untuk mempelajari teologi, hukum dan tradisi, bahasa Arab, tata bahasa, dan retorika. Dinasti Fatimiyah telah membawa Mesir melambung dan beroleh pengakuan, baik dari dunia Islam maupun di luar dunia Islam.

Nama al-Muizz dan putranya, al-Aziz, berperan penting dalam mengukir sejarah itu. Meski sang ayah hanya memerintah di sana selama dua tahun, dia telah membuka jalan bagi penerusnya. Dan, al-Aziz yang memerintah selama 21 tahun benar-benar mampu meneruskan dasar pemerintahan yang baik dari ayahnya. Ia menghadirkan perdamaian dan kemakmuran bagi rakyatnya.

Al-Aziz juga mengembangkan arsitektur Islam dengan membangun istana. Ia mendirikan Masjid al-Hakim yang mempunyai kubah unik. Pada masa itu, contoh pengembangan kubah dari tradisi Islam Dinasti Fatimiyah di Kairo ditemukan pada Masjid al-Azhar, al-Hakim, dan al-Guyushi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA