Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Monday, 15 Ramadhan 1440 / 20 May 2019

Budaya Nyirih di Myanmar

Senin 13 May 2019 18:18 WIB

Red: Agung Sasongko

Salah satu contoh dagangan nyirih di Myanmar.

Salah satu contoh dagangan nyirih di Myanmar.

Foto: Dok Ustaz Budy Budiman
Budaya nyirih ternyata dikenal pula dalam masyarakat Myanmar.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Budy budiman

JAKARTA -- Budaya nyirih ternyata dikenal pula dalam masyarakat Myanmar. Jadi tak heran bila Anda mengunjungi Myanmar, Anda akan menemukan anak-anak muda makan sirih. Jangan heran pula, banyak sekali penjual sirih di jalan-jalan.

Nyirih ini ternyata memiliki banyak khasiat bagi tubuh, salah satu khasiat dari kebiasaan menyirih adalah meningkatkan kekuatan gigi. Lihat saja orangtua kita dulu yang terbiasa nyirih giginya lebih kuat dan masih utuh, dibandingkan dengan yang tidak terbiasa nyirih.

Nenek moyang kita telah mengetahui cara untuk memperkuat gigi dengan nyirih, sebelum ditemukannya pasta gigi.

Tapi tahukah Anda? Jauh sebelum nenek moyang kita menemukan sirih, Rasulullah SAW telah memerintahkan memakai siwak agar supaya gigi kuat dan, mulut kita wangi.

Siwak adalah dahan atau akar dari pohon Salvadora persica yang digunakan untuk membersihkan gigi, gusi, dan mulut. Jika saja bersiwak ini tidak memberatkan niscaya Nabi akan mewajibkan umatnya untuk memakai siwak. Maka dari itu Hukum memakai Siwak adalah Sunnah yang sangat dianjurkan.

Bagaimana ketika bulan Puasa ?

Yang benar adalah disukainya penggunaan siwak setiap saat, baik bagi yang berpuasa maupun lainnya, dan dibolehkan bagi yang berpuasa untuk menggunakan siwak setelah tergelincirnya matahari dan sebelumnya.

Dalilnya adalah hadits Amir bin Rabi’ah yang disebutkan dalam kitab-kitab sunan, ia mengatakan, “Aku melihat Rasulullah SAW berkali-kali menggunakan siwak ketika beliau sedang berpuasa.” Ia tidak membedakan apa yang dilihatnya itu, apakah sebelum tergelincirnya matahari atau setelahnya, ia menyebutkannya secara global.

Biasanya yang dilihat itu adalah setelah tergelincirnya matahari, karena shalat siang hari itu semuanya setelah tergelincirnya matahari. Sementara siwak itu sendiri sangat dianjurkan penggunaannya sebelum shalat.

Adapun orang-orang yang memakruhkan penggunaannya bagi yang sedang menjalankan puasa, mereka berdalih dengan hadits, “Jika kalian berpuasa, hendaklah kalian ber-siwak di awal hari dan janganlah kalian ber-siwak di akhir hari.” Tapi hadits ini lemah jadi tidak bisa dijadikan hujjah.

*Dai Ambassador Myanmar 2019, Tidim Jatman

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA