Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Ketika Seni Menjadi Alat Peredam Islomofobia di Kanada

Senin 10 Des 2018 10:02 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nashih Nashrullah

Kelompok Muslim Amerika Serikat mengampanyekan anti Islamofobia

Kelompok Muslim Amerika Serikat mengampanyekan anti Islamofobia

Foto: world bulletin
Keterampilan drama itu bekerja sama dengan Trickster Theatre di Calgary.

REPUBLIKA.CO.ID, CALGARY – Siswa Sekolah Omar Bin Al-Khattab di Calgary Islamic School menggunakan kekuatan teater untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran, seperti Islamofobia, identitas, dan sejarah Muslim di Kanada.

Sekolah itu bekerja sama dengan Trickster Theatre yang berbasis di Calgary untuk kursus kilat akting dan keterampilan. Tujuannya, agar anak-anak mulai dari taman kanak-kanak (TK) hingga kelas IX dapat menampilkan pertunjukan peran. 

“Ini luar biasa. Mereka sudah di sini mempersiapkan siswa kami dengan alat peraga, latihan. Anak-anak memiliki waktu yang menakjubkan untuk mempelajari semua tentang dunia seni,” kata guru Kelas IX, Noreen Bashir dilansir di CBC.ca, Sabtu (8/12).

Kemitraan ini adalah hasil dari aplikasi hibah 11 ribu dolar AS yang sukses melalui Pengembangan Seni Calgary. Bashir menjelaskan, tema utama pertunjukan peran adalah sejarah Muslim di Kanada. Masing-masing kelas diminta membuat drama tersebut. Tujuannya, ada gambaran lebih besar ihwal kehidupan Muslim Kanada.

Bashir mencontohkan, kelasnya mengambil tema stereotip dan Islamofobia. Sementara, kelas lain, membahas masjid pertama yang dibangun di Kanada, hambatan bahasa, dan Muslim sebagai pembantu komunitas.

“Saya hanya ingin mereka bangga dengan siapa mereka. Untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita bukan seperti apa yang dipikirkan. Kita sama seperti orang lain, tetapi pada saat yang sama kita juga sangat berbeda sehingga saling menerima,” tutur Bashir.

Lokakarya yang digelar selama sepekan itu melibatkan delapan aktor dari Trickster. Mereka mengajar setiap kelas dalam hal akting dan keterampilan.

“Ini adalah pertama kalinya sebuah sekolah Islam bekerja dengan Trickster. Mereka belajar beberapa hal tentang iman dan bekerja dengan sekolah Islam,” kata Kepala Sekolah Omar Bin Al-Khattab, Raiha Idrees.

Idrees menjelaskan, Sekolah Omar Bin Al-Khattab berupaya mengubah beberapa stereotip negatif tentang Islam. Karena itu, karya peran anak-anak akan diabadikan dalam CD dan dibagikan di tingkat nasional dan internasional.

Salah satu drama komedi menceritakan pakaian yang dikenakan oleh seorang gadis Muslim. Teater akan berbicara tentang bagaimana hal itu diterima di masyarakat dan mengapa jilbab dipakai perempuan Muslim.  

“Ketika anak-anak membawa pesan-pesan ini, anak-anak lain dapat mengaitkannya dengan jauh lebih baik,” ujar Idrees.

“Bagi mereka, itu adalah risiko besar ke wilayah baru. Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi kami,” kata Direktur Produksi Trickster, David Chantler.

Chantler mengatakan, Trickster tidak pernah membuat pertunjukan berdasarkan ajaran Alquran atau kebiasaan iman Muslim. Karena itu, dia menganggap kerja sama itu adalah pengalaman hebat bagi Trickster.

“Mereka terbuka untuk seluruh pengalaman dan anak-anak memiliki waktu yang fantastis,” kata Chantler.

Anak-anak mengatakan, pengalaman berperan membantu mendapatkan keterampilan baru, seperti berbicara di depan umum, bertindak, dan meningkatkan kepercayaan diri.

“Kami belajar dan bangga dengan agama kami dan mereka membantu kami mempelajari keterampilan baru, seperti akting dan berbicara di depan umum,” kata salah satu siswa, Sala Waqas.

Dia mengaku senang dan bangga karena Muslim mampu menunjukkan kepada dunia tentang identitas sebenarnya dari pemeluk agama Islam.

“Kita berbicara tentang bagaimana orang-orang memiliki gagasan yang salah tentang kita, bahwa kita adalah teroris, pengebom, ekstremis, hal-hal seperti itu,” kata siswa kelas IX, Tayyib Zia.

“Mereka telah mengajar kami keterampilan drama dan tidak hanya keterampilan drama, tetapi bagaimana memamerkan agama kami melalui drama,” kata siswa lainnya, Rinad Hamid.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA