Sabtu , 11 November 2017, 16:56 WIB

PLN dan Al Azhar Resmikan RGI Aceh

Red: Irwan Kelana
Dok LAZ Al Azhar
Peresmian Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Aceh oleh PLN.
Peresmian Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Aceh oleh PLN.

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH -- Sebuah hari yang bersejarah telah tertoreh bagi generasi muda Aceh. Tepat pada peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada Jumat,  10 November 2017, kampus pendidikan dan pelatihan generasi muda kreatif  produktif  bernama Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Aceh diresmikan. Peresmian itu dilakukan  oleh PT  PLN (Persero) di Gampong, Neuhen, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh, Besar.

Peresmian RGI Aceh  dilakukan langsung oleh Direktur Bisnis Regional Sumatera, Wiluyo Kusdwiharto. Acara itu disaksikan General Manager (GM) PLN Aceh, Jefri Rosiadi dan staf ahli Gubernur Aceh bidang  perekenomian keuangan dan pembangunan, T Syakur, dan Ketua YPI Al Azhar Bidang Dakwah dan Sosial,  H Sobirin.

Dalam kesempatan itu Wiluyo menyampaikan,  tugas PLN selaku BUMN bukan hanya menghadirkan infrastruktur ketenagalistrikan dan memberikan pelayanan. PLN juga harus ikut serta dalam peningkatan kualitas dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satunya adalah dengan mendirikan RGI. “Dengan hadirnya pusat pemberdayaan pemuda produktif tersebut, maka diharapkan dapat meningkatkan keterampilan generasi muda,” ujarnya dalam rilis LAZ Al Azhar yang diterima Republika.co.id, Jumat (10/11).

Disebutkan, RGI dibangun di lahan seluas kurang lebih 6.800 meter persegi, berlokasi di Desa Neuhen, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Bangunan RGI yang megah dua lantai ini akan berfungsi sebagai pusat pemberdayaan dan pelatihan bagi pemuda dan pemudi Indonesia, sebagai bagian dari program Lazis PLN dan LAZ Al Azhar.

“Untuk sementara waktu, ada beberapa kelas keterampilan yang akan diberikan di RGI, seperti tata busana, teknik komputer dan jaringan, teknik otomotif dan kelistrikan,”  tutur Wiluyo.

Ketua YPI Al Azhar Bidang Dakwah dan Sosial  H Sobirin mengatakan, dalam pelaksanaannya, RGI mengadopsi platform pesantren, tetapi fokus pada penyelengaraan pendidikan nonformal dalam kemasan kursus singkat.

“Perpaduan tersebut, bertujuan agar peserta pelatihan  tidak hanya menyerap pengetahuan dan keterampilan unggul yang menjadi pondasi  depan mereka, tapi juga memiliki pengetahuan dan dasar akidah yang baik,"  ujarnya.

Sobirin menambahkan,  RGI diharapkan juga menjadi solusi strategis terhadap tingginya angka penggguran di Aceh yang pada tahun 2017 mencapai 175 ribu orang. Tingginya angka pengangguran dikhawatirkan akan menciptakan kondisi sosial yang negatif dan daya beli rendah.

“Program RGI yang strategis dan tepat guna, diharapkan dapat menciptakan lebih banyak generasi muda Aceh yang bertranformasi menjadi generasi muda yang lebih bertakwa, kreatif, produktif, terampil dan dapat menjadi tulang punggung keluarga,” tuturnya.

Program reguler pelatihan RGI menyasar usia produktif antara 17 – 30 tahun, berasal dari keluarga kurang mampu, dengan masa pendidikan dan pelatihan selama enam bulan. RGI yang telah menjadi trendsetter pemberdayaan pemuda produktif yang berpusat di Sawangan,  Depok, Jawa Barat  telah mengentaskan 1.700 pemuda/i dari pengangguran.

“Untuk mengcover wilayah Indonesia bagian Timur , RGI juga telah hadir di Surabaya dan akan segera hadir di wilayah lain seperti Lampung, Semarang dan Demak,” ungkap Sobirin.