Sabtu , 25 March 2017, 15:07 WIB

Jelang Nyepi, Kemana Melasti?

Red: Agus Yulianto
Agung Wijaya/Antara
Suasana Kuta saat Nyepi (Ilustrasi)
Suasana Kuta saat Nyepi (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Ungkapan dan pertanyaan itu selalu muncul dan berulang-ulang di kalangan masyarakat Bali menjelang pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka yang dirayakan setiap tahun sekali. Kali ini peralihan dari Tahun Saka 1938 ke 1939 yang jatuh pada Selasa, 28 Maret 2017.

Melasti, kegiatan ritual yang bermakna membersihkan rangda, barong, "pratime", dan benda-benda sakral lainnya yang disucikan di Pura itu, mengawali seluruh rangkaian tapa brata penyepian yang wajib dilakukan oleh 1.480 desa adat di delapan kabupaten dan satu kota di Bali.

Bagi masyarakat yang bermukim di pantai melakukan kegiatan itu ke laut, bagi yang tinggal di daerah pegunungan melakukannya ke danau, dan masyarakat yang tinggal jauh dari pantai maupun gunung dapat melakukan ke sumber mata air terdekat.

Oleh sebab itu, melasti yang digelar secara berkesinambungan terkait dengan pelaksanaan Nyepi itu lokasinya selalu berubah-ubah, terutama desa adat yang lokasinya di tengah-tengah daratan Bali, yakni jauh dari laut dan jauh pula dari danau.

Masyarakat Desa Adat Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan misalnya, yang lokasinya jauh dari danau maupun dari pantai melaksanakan ritual melasti itu ke sumber mata air (beji) di tepi Sungai Yeh Panen yang berjarak sekitar tujuh kilometer.

"Tahun berikutnya ritual itu dilakukan ke Danau Beratan, Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan," tutur salah seorang tokoh masyarakat setempat, Wayan Dana Sabtu.

Setiap ritual yang digelar oleh masing-masing desa adat yang menempuh jarak lebih dari 15 kilometer, umumnya menggunakan truk untuk mengangkut "pratima" dan benda yang disakralkan, kemudian diikuti belasan kendaraan dan sepeda motor yang mengiringinya.

Namun, ada pula desa adat, meskipun menempuh jarak jauh, tetap saja dengan berjalan kaki dengan cara membagi warganya sedemikian rupa yang umumnya dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Kegiatan melasti yang digelar oleh masing-masing desa adat di Bali umumnya diiringi dengan instrumen musik tradisional gong blaganjur dan lagu-lagu kerohanian sehingga lebih meriah dan semarak.

Seluruh pantai

Iring-iringan barong, rangda, dan benda-benda sakral yang disucikan di pura dalam lingkungan desa adat umumnya memadai pantai-pantai di Bali untuk dibersihkan secara khasat mata.

Sepanjang Pantai Kuta, Legian, hingga Peti Tenget di Kabupaten Badung yang sehari-harinya sebagai tempat wisatawan berjemur, kini berubah menjadi kegiatan ritual melasti.

Saat ritual berlangsung, biasanya "autan manusia" yang mengenakan busana adat Bali dengan didominasi warna putih dan kuning menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang saat itu sedang berjemur di bawah terik matahari.

Bahkan, beberapa warga yang secara khusuk melaksanakan kegiatan ritual itu, kesurupan dengan mengambil dua bilah keris yang saat itu sedang disucikan, lalu menusukkan kebagian tubuhnya, namun tidak apa-apa.

Setelah pemangku memercikan air suci (tirta) ke warga yang kesurupan itu akhirnya kembali sadar. Suasana melasti yang semarak juga terjadi di sepanjang Pantai Sanur dan Pantai Padangbalak.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana MSi mengatakan, pihaknya menetapkan waktu tiga hari, 25-27 Maret 2017, bagi seluruh desa pekraman untuk melaksanakan melasti (Mekiyis).

Masing-masing desa adat bisa memilih salah satu dari tiga hari baik yang telah ditetapkan sesuai dengan tempat, waktu, dan keadaan (desa kala patra).

Kegiatan melasti itu dipimpin dan diatur oleh prajuru (pengurus) desa adat masing-masing, dengan menekankan ketertiban, kelancaran, dan keamanan di jalan raya.

Untuk itu, Polda Bali dengan segenap jajarannya di polres dan polsek mengerahkan 5.626 anggota dengan dibantu 22.291 petugas keamanan desa adat (pecalang) untuk mengamankan seluruh rangkaian ritual Nyepi selama seminggu, 24-29 Maret 2017.

Kapolda Bali Inspektur Jenderal Polisi Petrus Golose mengajak, masyarakat setempat untuk menjaga situasi tetap kondusif menjelang dan selama Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939.

Untuk itu, masyarakat Bali agar dapat menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat di lingkungan masing-masing dengan saling menghormati dan menghargai antarumat beragama. Selain itu, mengajak masyarakat setempat untuk mengendalikan diri, khususnya saat pelaksanaan "Pengerupukan" atau sehari menjelang Nyepi yang biasanya diwarnai dengan arak-arakan "ogoh-ogoh" (boneka raksasa berwujud menyeramkan).

Kapolda Golose juga mengharapkan, agar tidak ada masyarakat yang mengonsumsi minuman beralkohol, judi, menyalakan mercon, atau bahan peledak agar suasana menjelang Nyepi berlangsung damai.

Jika situasi kondusif, masyarakat dapat melaksanakan catur brata penyepian, berupa empat pantangan, yakni "amati karya" (tidak bekerja), "amati geni" (tidak menyalakan api, lampu, dan listik), "amati lelanguan" (tidak bersenang-senang), dan "amati lelungaan" (tidak bepergian).

Bali tanpa aktivitas saat Hari Suci Nyepi, termasuk ditutupnya Bandara Ngurah Rai dan keempat pelabuhan laut. Nyepi bermakna pembersihan bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (diri manusia sendiri).

Lewat ritual Nyepi, menurut Ketua PHDI Bali Ngurah Sudiana, masyarakat diajak membersihkan bumi dari segala kotoran, baik yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan, maupun perbuatan (Tri Kaya Parisuda).

Dengan membangun kesucian diri, seluruh masyarakat dan umat manusia diharapkan mendapat tuntunan dari Yang Maha Kuasa, agar manusia berusaha mengembalikan serta menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta beserta seluruh isinya.

Untuk itu, katanya, semua orang hendaknya mampu memberikan kontribusi yang optimal dalam menjaga keseimbangan alam dan menghilangkan sifat serakah dan rakus dalam mengeksploitasi kekayaan alam melebihi kebutuhan.

Sumber : Antara