Senin , 27 Maret 2017, 10:32 WIB

Ingat Inul, Ingat Abah Hasyim Muzadi: Iku Njoged Opo Kesurupan!

Red: Muhammad Subarkah
Republika/Yogi Ardhi
 Inul Daratista
Inul Daratista

Ruangan ketua umum PBNU yang saat itu dijabat KH Hasyim Muzadi saat itu memang lengang. Kala itu saat jeda selepas Ashar. Hanya beberapa jurnalis yang berada di ruangan di lantai III gedung PBNU tersebut. Mereka menunggu pernyataan Abah (panggilan akrab kepada KH Hasyim Muzadi) yang saat itu tengah heboh perseteruan Rhoma Irama dan Inul Daratista terkait goyangan ngebor-nya.

Saat itu sang Raja Dangdut marah besar karena Inul (Ainur Rokhimah, nama aslinya) yang asal kampung Japanan Pasuruan berjoget seronok serupa penari erotis. Rhoma makin berang karena saat itu Inul banyak bergoyang (istilah joget saat itu diganti dengan sebutan goyang, red) sembari membawakan lagu-lagunya.

''Joget itu indah dan teratur. Goyang ngebor merendahkan dangdut dan membawanya lagi ke dalam musik comberan. Lagu-lagu saya haram dinyanyikan dia (Inul, red),'' kata Rhoma.

Tentu saja omongan Rhoma membuat keriuhan di media massa. Perseteruan makin memanas bahkan di dalam kesempatan terpisah Inul dan Rhoma Irama sempat dipanggil para wakil rakyat untuk memberikan keterangan di rapat DPR di Senayan. Inul diantar datang bersama penyanyi senior, Titik Puspa. Rhoma Irama datang bersama penyanyi dangdut yang mendukungnya.

Dari keriuhan itu, Inul berada di atas angin karena mendapat dukungan media. Dia pun makin kaya karena order manggung saat itu nyaris tiada putus. Persis dengan jargon Benyamin S, anak desa ini kemudian mendapat rejeki yang 'kotaan'. Goyangan jadi objek kapitalisme hiburan. Budayawan Emha Ainun Najib menyemoni keriuhan itu dengan tulisan kolom di media masa ibu kota dengan judul "Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua".

Dan di titik peristiwa itu omongan mendiang wartawan Suara Karya dan penulis buku biografi Rhoma Irama, Kartoyo, kini pun kembali terngiang: Pertemuan di DPR tersebut seolah mengulang perseteruan tahun 1970-an. ''Bang Haji sudah tak cocok sama Titiek Puspa sejak saat itu,'' kata Kartoyo seraya mengatakan apalagi ketika Oma tak lagi berada di perkumpulan artis ibukota dan memilih tak bergabung dengan Golkar. "Kalau disamakan dengan lagu maka peristiwa ini ibarat lagu lama diputar lag,'' kata Kartoyo.

Nah, di sore selepas Ashar itu, komentar Abah Hasyim memang ditunggu-tunggu. Setidaknya kami ingin tahu apa komentar dia. Dan Abah pun tersenyum lebar ketika beliau ditanya soal 'perang urat syaraf' antara Rhoma dan Inul. Kebetulan, saat itu situasinya sudah semakin seru karena beberapa hari sebelumnya Inul telah mengunjungi kantor Gus Dur yang berada di lantai dasar Gedung PB NU. Dan Rhoma Irama pun kemudian tak mau kalah karena selang beberapa hari kemudian dia pun ikut menemui Gus Dur di tempat yang sama. "Jangan adu saya dengan Gus Dur. Beliau itu kiai saya,'' ujar Rhoma seusai bertemu dengan Gus Dur.

Nah, dengan beberapa back ground itulah pernyataan Abah Hasyim menjadi terasa penting. Paling tidak untuk konsumsi pribadi dan kelak akan ditulis ketika waktunya dirasa sudah tepat. Abah melayani pertanyaan soal goyangan Inul itu sembari duduk, minum teh, dan berbincang secara santai.

"Kamu mau tanya apa,'' kata Abah Hasyim dengan nada ringan.
"Soal goyangan Inul Abah..?"

Mendengar jawaban polos itu Abah terlihat hanya tersenyum sembari membetulkan letak kaca matanya. Awalnya, Abah omong pertanyaan kurang kerjaan karena soal begitu kok ditanyakan kepadanya.

"Tanya kepada budayawan dan seniman dong. Jangan tanya ke saya,'' kata Abah.
"Ya ndak begitu Abah. Soalnya dia kan anak santri juga. Lihat saja nama aslinya tuh Abah,'' tukas saya sembari memberi tahu nama aslinya serta menceritakan pengakuan Inul di media massa tentang perilaku kehidupan keluarganya yang sangat agamis.

Mendengar itu Abah Hasyim terlihat terdiam sesaat. Beliau tampak sedang mempersiapkan jawaban. Namun, jawaban yang kemudian ke luar dari mulutnya justru rangkaian kalimat yang tak terduga. Abah malah mengajak si-penanya bercanda sekaligus memberikan tamsil.

"Di Jawa Timur santri itu macam-macam talenta atau kemampuannya. Ada santri yang qori dan korak. Kalau qori itu santri yang jago ngaji dan korak itu santri yang bengal (nakal),'' kata Abah dengan nada ringan. Sontak beberapa orang yang ada di ruangan itu tertawa ngakak.

"Kalau goyangan ngebor Inul itu bagaimana Abah?"

Sembari masih mengulum senyum Abah berkata seperti ini. Dan, jawabnya pun tak kalah mengejutkan: "Aku nggak tahu kenapa sih si arek wedhok iku (anak perempuan itu). Kuwi njoged opo kesurupan! (Itu menari atau kesurupan!)." Beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu pun tertawa ngakak kembali.

Namun, bersamaan dengan jawaban itu tamu Abah yang berikutnya pun masuk ke ruangan. Maka perbincangan ringan dengan berbagai macam tema itu usai. Ketika menengok ke arah jendela kaca terlihat hari mulai gelap. Lampu jalanan mulai menyala. Waktu Maghrib tak lama lagi akan segera datang. Kami meninggalkan ruangan Abah dengan terus menyimpan memori tentang kelakar profil sekelompok santri dan goyang ngebor artis asal Japanan, Inul Daratista.

Al Fatikhah untuk Abah Hasyim.