Ahad , 13 August 2017, 05:03 WIB

Oma Irama, Dangdut Kampungan: Sound Of Muslim dan Perubahan Sosial

Red: Muhammad Subarkah
Rhoma Irama
Oma Irama bersama pasangan bernyanyinya Rita Sugiarto dt tahun 1970-an. (foto koleksi, Buyung Aktuil).

Dangdut Kampungan?

Di penghujung tahun 1960-an, setiap habis subuh,  tetangga di sebelah rumah orang tua saya di Cikarang,  Bekasi,  memiliki kebiasaan tetap: mula-mula memutar piringan hitam pengajian Quran.  Qori dan Qoriah kegemarannya ialah Muhammad Dong dan Sa'idah Ahmad. Keduanya adalah juara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 1968.

Sesudah itu,  tetangga yang saya sapa Ceu Iyah itu memutar piringan hitam berisi lagu-lagu dari Orkes Melayu (O.M) Purnama pimpinan Ahmad Zakaria,  atau O.M. Ria Beluntas pimpinan Ahmad Basahil.

Suara merdu yang terdengar dari piringan hitam itu, terutama dari O.M. Purnama, ialah suara Titing Yeni,  Elvi Sukaesih,  Ellya Khadam,  Muchsin, Mansyur S,  dan Oma Irama.  Yang disebut terakhir  belakangan membentuk O.M. Soneta.

Ceu Iyah, tetangga saya itu,  mengikuti perkembangan musik Melayu dengan menambah koleksi piringan hitamnya. Rupanya Ceu Iyah menggemari Oma Irama dengan Sonetanya.
 
Maka tiap pagi,  terdengarlah suara merdu Oma Irama mendendangkan "Berkelana"
"Kalau aku berkelana, Tiada yang tahu,Ke mana ku pergi...."

"Berkelana" digemari banyak orang. Lantaran itulah pada album-album berikutnya Oma melahirkan seri "Berkelana II,"  dan seterusnya. Seorang antropolog Amerika Serikat William H Frederick mengatakan penggemar Oma Irama saat itu mencapai sekitar 20-30 juta dari ppopulias penduduk Indonesia saat itu jumlahnya mencapai 130 juta orang.

Frederich menulis begini: ...dangdut diproduksi oleh seorang super star sejati Indonesia: Rhoma Irama. Ia lebih dari seorang super star biasa yang hanya berarti sosok penting dan terkenal, yang hanya bermakna bagi kalangan dengan tingkat perekonomian atau intelektualitas tertentu. Rhoma Irama adalah bintang bagi massa yang sesungguhnya, bagi kalangan elit dan alit, bagi kalangan konglomerat hingga orang-orang melarat. (Frederick, William H. 1982. Rhoma Irama and The Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture. Southeast Asia Program Publications at Cornell University. Hal 102-130).

Meskipun popularitas Oma Irama meningkat karena "Berkelana", sukses yang melambungkan nama Oma Irama tidak syak lagi ialah lagu "Begadang" yang dipublikasikan pada 1974.

Di panggung hiburan seperti di Taman Ria Monas,  Jakarta, Oma Irama adalah jaminan mutu. Publik berhimpit sampai ke depan panggung,  apabila Oma Irama yang bermain musik.

Popularitas Oma Irama dengan "Begadang"-nya ternyata mengusik ketenteraman jiwa para pemusik status-quo.  Dari mulut mereka keluar kata-kata kotor mencerca musik melayu --belakangan oleh Radio Agustina Junior di Jakarta dipopulerkan dengan nama musik dangdut.

Sebagian "orang kota" menyebut dangdut sebagai "musik kampungan". Seorang pemusik cadas dari Bandung menyebut dangdut "tai kucing!"

"Musik dangdut kampungan?  Kayaknya orang kota itu seperti berkuasa menghakimi,  memutuskan baik buruknya suatu nilai. Padahal keputusan mereka ini belum tentu benar," ujar pemusik Guruh Sukarnoputra.

"Siapa bilang memalukan,  kampungan? Musik jazz atau musik apapun bisa dibilang kampungan kalau yang membawakan tidak becus," segah pemusik jazz kenamaan,  Jack Lesmana.

Oma Irama sendiri tiba-tiba menjadi ikon musik dangdut.  Membicarakan musik dangdut, orang mesti lari ke Oma. 

"Sebagai sesama seniman,  saya senang pada keberhasilan Oma. Begitu dangdutnya ia mulai,  orang-orang langsung berkerumun dan ikut menari. Ia bintang yang berhasil," kata pemusik Eros Jarot.

Jack Lesmana mengaku suka kepada Oma. Beat yang dibawakan Oma,  baik. Aransemen dengan unsur-unsur rock,  disenangi Jack. "Oma tidak sembarangan main. Ia cukup memakai pikiran dalam penggarapan musiknya," kata Jack Lesmana.

Pemain biola termasyhur,  Idris Sardi mengaku tidak risi dan tidak merasa rendah diri memainkan musik dangdut. Idris Sardi mengaku pernah merekam lagu "Begadang" milik Oma Irama.

"Kita memang tidak bisa berbohong," kata pemusik Harry Roesli,  "Dangdut memang disukai banyak orang, terutama rakyat kecil."

Salah satu jejak tudingan bahwa musik dangdut kampungan terekam kembali pada tulisan Buyung Aktuil, wartawan senior sebuah majalah usik yang menjadi ikon di dekade 1970-an: Majalah Aktuil. Dalam sebuah catatannya di media sosial di menceritakan kembali isi sebagian tulisannya kala para musisi tertentu saat itu menyepelekan eksistensi Oma Irama dan dangdut.

Buyung menulis 'panasnya' persaingan antarsesama seniman musik kala itu seperti ini:

Perseteruannya dengan Benny Soebardja jadi melebar setelah Deddy Dores ikut-ikutan an buka suara menantang duel meet Giant Step vs Oma Irama & OM Soneta. "Tentukan tempat dimana,kami siap membabat habis" teriak Dores.

Sang kaisar (Oma Irama, red) menanggapi seruan Dores dengan santai."Deddy Dores lupa kalau OM Soneta sudah nge-rock ala Deep Purple.Selain itu Giant Step hanya show di GOR,sedangkan OM Soneta selalu show di lapangan terbuka".

Oma menegaskan dirinya bukan takut duel meet."Karena saya ber-dhangdut buat rakyat kebanyakan.kalau grup2 rock musiknya terbatas buat kalangan tertentu. Saya hanya bisa berharap agar siapapun jangan sembarangan mengumbar kata2,menantang kesana kemari.Atau bilang musik dhangdut itu kampungan.Kalau mau bersaing,mari kita bertarung secara 'fair' dengan musik kita masing-masing"..


Sound of Moslem

Pada pertengahan 1970-an,  Oma bersama pemain O.M. Soneta,  menunaikan ibadah haji.  Sepulang dari Tanah Suci,  Oma dan Soneta melakukan perubahan radikal.

Nama Oma Irama dia lengkapi menjadi Raden Haji Oma Irama disingkat Rhoma Irama.  Soneta yang semula orkes melayu, dideklarasikan menjadi ‘Sound of Moslem’.

Perubahan itu bukan sekadar perubahan nama, melainkan penegasan identitas dan pemihakan. Secara fisik,  itu terlihat dari aksi panggung Rhoma dan Soneta yang bersorban.  Secara ideologis, tampak dari pemihakan Rhoma Irama dan Soneta kepada satu-satunya partai politik berasas Islam di zaman Orde Baru: PPP.

Berduet dengan politisi muda PPP yang sedang naik daun,  Drs. H. Ridwan Saidi, Rhoma Irama dan Soneta menghentak jagad politik DKI Jakarta. PPP memenangkan pemilihan umum di DKI Jakarta, mengalahkan Golkar yang didukung penuh oleh birokrasi sipil dan militer.

Pada pemilu-pemilu berikutnya, meskipun tidak pernah menjadi pengurus dan caleg,  Rhoma Irama konsisten mendukung PPP.

Tidak cuma mendukung PPP,  Rhoma Irama acap tampil bersama Toni Ardi menjadi muballigh yang kritis terhadap kebijakan rezim Orde Baru.

Akibat sikap politiknya itu,  Rhoma Irama diharamkan masuk TVRI,  satu-satunya televisi di masa itu. Beberapa lagunya seperti "Rupiah" dan "Hak Asasi Manusia" dicekal oleh pemerintah.