Jumat , 14 April 2017, 20:47 WIB

Ketika Sastrawan Arab Melawan Penindasan Zionis Israel

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nasih Nasrullah
AP
Kota Tua Yerusalem, lokasi Masjid Al-Aqsa berada.
Kota Tua Yerusalem, lokasi Masjid Al-Aqsa berada.

REPUBLIKA.CO.ID, Perlawanan bangsa Palestina terhadap penjajahan Zionis Israel tak hanya tergambar dalam kegigihan Intifadah. Dalam buku Palestine and Modern Arab Poetry (1984), Khalid A Sulaiman mengungkapkan, sejak 1917 hingga tahun pengukuhan “negara”zionis Israel pada 1948, para penyair Arab-Palestina amat deras berkarya. 

Begitu Deklarasi Balfour dicanangkan pada 1917, aksi demonstrasi merebak di berbagai kota di Arab, termasuk Palestina. Buku antologi sajak pertama yang konsen seutuhnya pada perjuangan Palestina terbit di Irak pada 1939. Judulnya adalah  Majmu’at al-Filastiniyyat.  

Beberapa nama penyair Palestina dari abad ke-20 dapat disebutkan di sini. Said al-Muzayin (wafat 1991) merupakan penyair sekaligus penggubah lagu kebangsaan negara Palestina. Pada 1959, al-Muzayin bergabung dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). 

Salah satu sajaknya yang sampai kini dikenang berjudul “Tanah Airku”: Bersumpah aku di bawah kibaran bendera kebangsaan Pada Tanah Air, negara, bangsa, dan nyala penderitaan Palestina Aku bersumpah akan terus hidup sebagai pendukung Revolusi. Aku akan selalu mendukung Revolusi. Mati sebagai pejuang Revolusi –hingga negaraku merdeka.

Nama lainnya adalah Samih al-Qasim (wafat 2014). Kepenyairannya dipengaruhi periode sebelum dan sesudah Perang Enam Hari (1967), laga tempur yang menentukan nasib Palestina terjajah Yahudi-Zionis sampai detik ini. Dalam masa mudanya, al-Qasim sangat dipengaruhi oleh gelombang nasionalisme Arab. 

Sejak 1984, penyair yang juga wartawan ini telah menulis 24 kumpulan sajak pro-nasionalisme Palestina. Sajak-sajaknya bercirikan tidak terlalu panjang namun memiliki diksi yang kuat sehingga mampu menggambarkan suasana perjuangan, yang kadang tragis.

Dalam sebuah sajaknya, “Tiket Perjalanan”, ia menumpahkan perasaan skeptis terhadap perhatian dunia akan perdamaian di Bumi Palestina. Sebab, kedigdayaan penjajahan Israel yang menghabisi generasi Palestina seakan-akan berada di atas kuasa global: 

Suatu hari ketika kau membunuhku. Akan kau temukan di dalam lipatan kantungku. Beberapa tiket perjalanan. Menuju kedamaian. Menuju tanah lapang yang luas, dan butiran hujan. Menuju kesadaran jiwa umat manusia. Jangan remehkan tiket itu.