Selasa , 28 Februari 2017, 04:47 WIB

Ini Sekolah Islam Modern Pertama di Betawi

Rep: Fuji E Permana/ Red: Agung Sasongko
IST
Pendiri Jamiatul Kheir
Pendiri Jamiatul Kheir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada abad ke-19 dan seterusnya, perkembangan Islam di Betawi (Jakarta) semakin pesat. Jumlah imigran Muslim di Betawi pun semakin bertambah karena kemudahan transportasi. Pada awal abad ke-20, muncullah sekolah Islam modern yang pertama di Betawi.

Peneliti sejarah, Alwi Alatas mengatakan, berkat semakin mudahnya transportasi, semakin banyak pula orang Indonesia yang bisa bepergian ke Timur Tengah. Begitu pula sebaliknya, orang Timur Tengah semakin mudah datang ke Indonesia.

Pada awal abad ke-20, muncul perkumpulan Jamiat Kheir. "Jamiat Kheir (kemudian) menjadi sekolah Islam modern pertama di Indonesia," kata Alwi.

 Ia menerangkan, walau ada yang mengatakan, sekolah Islam modern juga muncul di Padang pada tahun yang sama saat berdirinya Jamiat Kheir, Jamiat Kheir kemungkinan besar lebih dulu berdiri, yakni pada 1901.

Bentuk awalnya lebih mirip perkumpulan atau organisasi sebelum berubah menjadi sekolah Islam modern. Jamiat Kheir yang menjadi organisasi Islam modern didominasi oleh orang-orang keturunan Arab, habaib, dan pribumi.

Dalam buku-buku sejarah, menurut Alwi, KH Ahmad Dahlan juga termasuk anggota Jamiat Kheir. Kemudian, HOS Cokroaminoto pun dikatakan berhubungan erat dengan orang-orang Jamiat Kheir.

"Jadi, di awal abad ke-20, kalangan habaib bersama yang lainnya punya peran kepeloporan dalam institusi sosial dan pendidikan," ujarnya.

Pada kurun waktu berikutnya, organisasi nasional lainnya semakin besar. Sementara, Jamiat Kheir kurang terdengar lagi karena kalah besar dibandingkan organisasi-organisasi nasional itu.

Model pendidikan di sekolah Islam modern berbeda dengan madrasah dan pondok pesantren. Di madrasah dan pesantren murid-murid atau santrinya belajar sambil duduk di lantai. Mereka lebih banyak menghafal.

Sementara, sekolah Islam modern Jamiat Kheir waktu itu sudah mirip sekolah umum seperti sekarang, hanya muatan utamanya adalah ilmu-ilmu agama atau keislaman. Jadi, pada masa itu, masyarakat Betawi punya pilihan. Jika ingin belajar Islam ke pondok pesantren dan jika ingin sekolah modern yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum, pergilah ke sekolah Belanda atau sekolah misionaris. Belajarnya duduk di kursi dan menggunakan papan tulis.

"Nah kala itu, Jamiat Kheir bikin sekolah seperti yang dibangun Belanda.''