Sabtu , 13 January 2018, 06:36 WIB

Hikayat Mimpi

Rep: A Syalabi Ichsan/ Red: Agung Sasongko
Huffingtonpost
Mimpi biasanya tidak selalu baik, namun juga pertanda akan hal yang sebentar lagi terjadi. Ilustrasi
Mimpi biasanya tidak selalu baik, namun juga pertanda akan hal yang sebentar lagi terjadi. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mimpi disebut orang sebagai kembang ti dur. Tak tam pak secara ma teri, tetapi bisa dirasakan. Dunia medis me nyebut mimpi terjadi pada waktu tidur aktif. Tidur terjadi pada seperempat terakhir siklus tidur manusia. Kondisi ketika mata manusia bergerak cepat (rapid eye movement). Otak manusia pun berada dalam keadaan sa ngat aktif. Dalam kondisi ini, tubuh akan memulihkan dirinya sendiri. Otak akan me-refresh secara otomatis sehingga menjadi segar ketika bangun.

Kembali ke pembahasan me ngenai mimpi, tamu yang datang tanpa diundang ini menjadi ba han perbincangan manusia dari zaman purba hingga kini. Pada zaman Yunani kuno, mimpi di jadi kan sebagai penghubung an tara manusia dan dewa. Mimpi pun menjadi salah satu tanda dari kerasulan. Dari mimpi Nabi Ibra him AA saat mendapat wahyu untuk menyembelih Ismail hing ga kisah Rasulullah SAW.

Salah satu kisah yang diceritakan dalam Alquran adalah cerita Nabi Yusuf AS. Kisah yang disebut dalam QS Yusuf ayat 43- 45 itu menjelaskan tentang bagai mana Nabi Yusuf menakwilkan mimpi raja Mesir. Saat itu, sang raja melihat tujuh ekor sapi be tina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus. Di sisi lain, raja me nyaksikan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lain nya yang kering.

Saat raja meminta pendapat kepada para pembesar negeri, me reka hanya berkata itu adalah mimpi yang kosong. Imam Ibnu Katsir menafsirkan jika para pembesar itu mengungkapkan, mim pi raja hanya ilusi yang terbayang hingga terbawa dalam tidur.

Yusuf pun menakwilkan mim pi tersebut jika sang raja harus bercocok tanam tujuh tahun la ma nya sebagaimana biasa. Mimpi itu ditafsirkan dengan datangnya masa paceklik dan pentingnya per siapan menghadapinya. Mak sud dari perkataan Yusuf tersebut, ujar Ibnu Katsir, kelak akan datang musim subur dan banyak hujan selama tujuh tahun berturut- turut. Sapi ditakwilkan seba gai tahun karena sapi yang dipa kai untuk membajak tanah dan lahan yang digarap untuk menghasilkan buah dan tanaman, yak ni bulir-bulir gandum yang hijau.

Lantas, Yusuf pun memberi arahan kepada mereka apa yang harus dikerjakan dalam tujuh tahun ini. "Maka apa yang kalian panen hendaklah kalian biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk makan kalian." (QS Yusuf: 47). Maknanya, betapapun hasil yang diperoleh dari panen pada musim subur selama tujuh tahun itu, mereka harus membiarkan hasilnya pada bulir-bulirnya. Dengan demikian, ini bisa disimpan da lam jangka waktu lama sehingga dapat menghindari kebusukan. Untuk gandum yang akan dima kan maka makanlah sekadarnya.

Dengan menyimpan itu, jum lah makanan dapat menutupi ke butuhan selama musim-musim pa ceklik selama tujuh tahun beri kut nya. Sapi-sapi kurus yang me makan sapi-sapi gemuk ditakwil kan sebagai musim paceklik sela ma tujuh tahun berturut-turut itu mengiringi musim-musim subur. Yusuf memang sudah diberi kan petunjuk berupa mimpi sejak kecil. Ketika itu, Nabi Yusuf me nyaksikan 11 bintang, matahari, dan rembulan sujud kepadanya. Sebelas bintang adalah saudarasaudaranya karena Nabi Yusuf merupakan anak ke-12. Matahari dan bulan merupakan lambang kedua orang tuanya.

Nabi Muhammad SAW juga cukup sering meriwayatkan ten tang mimpi. Hadis dari Abu Said al-Khudri, ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Jika salah se orang di antara kalian memimpi kan sesuatu yang ia senangi, se be narnya mimpi tersebut ber asal dari Allah. Maka hendaklah ia memuji Allah karenanya dan ceritakanlah. Adapun jika ia ber mimpi sesuatu yang tidak disukai maka itu berasal dari setan. Dan hendaklah ia meminta perlin dung an dari keburukannya, dan jangan menceritakannya kepada orang lain sehingga tidak membahayakannya." Merujuk kepada hadis di atas, Syekh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin menjelaskan, mimpi yang baik berasal dari Allah SWT.

Jika bermimpi sesuatu yang me nyenangkan, hendaknya men ceritakan kepada orang lain. Ha nya, orang yang akan mendegar kan cerita itu hendaknya orang yang disenangi agar ia tidak ditipu. Dalam hadis lainnya yang bersumber dari Abu Hurairah RA, "'Tiada yang tersisa dari ke na bian selain kabar-kabar gem bira. Para sahabat bertanya, 'Apa itu kabar-kabar gembira?' Dia menjawab, 'Mimpi yang baik.'" Mimpi sebagai bagian dari kenabian ditafsirkan al-Utsaimin, yakni mimpi merupakan bagian dari wahyu meski bukan wahyu sepenuhnya.

Sementara itu, mimpi buruk yang juga disebut dengan al- Hulm berasal dari setan. Mimpi buruk di sini, yakni memperlihatkan sesuatu hal menakutkan kepada seseorang. Contohnya, membunuh ayah sendiri, terbakar api menyala, atau mimpi menyeramkan lainnya. Dalam hadis ini, Rasulullah SAW pun memberikan dua cara untuk mengobati efek negatif mimpi buruk ini.

Pertama, berlindung kepada Allah dari keburukannya. Kedua, tidak menceritakan kepada siapa pun. Nabi SAW dalam hadis lain nya pun mewasiatkan agar kita meludah ke sisi kiri tempat tidur saat bermimpi buruk.

Rasulullah SAW sempat ber mimpi dan menakwilkan makna mimpi itu sendiri. Nabi SAW juga pernah menakwilkan mimpi sa ha bat. Dalam satu hadis, Nabi SAW bersabda, "Ketika tertidur, aku diberi gelas susu lantas aku minum sehingga kulihat sungai keluar dari kuku-kukuku. Kemu dian, sisanya aku berikan kepada Umar. Para sahabat bertanya ba gai mana menakwilkan mimpi ini. Itu adalah ilmu." Dalam hadis lain nya, disebutkan jika Nabi SAW melihat kesegaran susu itu dari jemarinya. Kelebihannya pun diberikan kepada Umar bin Khattab.

Syekh al-Utsmain menjelaskan, korelasi antara susu dan ilmu, yakni susu merupakan mi numan, makanan, energi sekaligus manisan. Sementara ilmu adalah energi bagi jiwa manusia. Ilmu pun seperti manisan yang lezat. Mengingat seorang yang berilmu merasa tidak ada sesuatu lebih enak dari ilmu. Mimpi lain nya, yakni melihat baju dalam tidurnya. Ketika itu, Nabi SAW meihat manusia berbaju gamis. Ada yang sampai ke dada dan ada yang sampai lebih bawah dari dada. Umar bin Khattab melewati dengan memakai gamis yang ia seret. Saat ditanya para saha bat bagaimana menafsirkannya, Nabi SAW menjawab, "itulah agama!"

Nabi SAW bermimpi melihat Siti Aisyah sebanyak dua kali sebelum menikah. Dalam mimpi nya, ada seorang malaikat meng gen dong Aisyah dalam sebuah kain sutra. "… Maka aku berkata, 'singkapkan kain ini!' Lalu malaikat tersebut menyingkapkannya dan ternyata itu engkau. Maka aku katakan, 'Jikalau ini benar-benar dari Allah maka berlangsunglah!' Mimpi yang sama pun berulang kembali.

Sahabat Abdullah bin Salam pernah bermimpi seakan berada di taman yang memiliki tiang di bagian tengahnya. Di atas tiang itu terdapat tali. Kemudian, ada yang berkata, "Naiklah." Abdul lah tidak bisa menaikinya. Lan tas, seorang pelayan mendatangi nya dan mengangkat pakaiannya.

Abdullah pun berpegang erat dengan tali itu. Tiba-tiba, Abdul lah terbangun dalam kondisi ma sih berpegangan di tali itu. Nabi SAW pun menakwilkan mimpi ter sebut "… Taman itu adalah Islam. Tiang itu adalah tiang Islam. Tali itu adalah tali yang kokoh. Engkau akan senantiasa memegang teguh Islam hingga engkau meninggal."

Melihat Nabi SAW
Salah satu peluang kita me lihat Nabi SAW ada dalam mim pi. Rasulullah SAW mengungkapkan jika dirinya tak bisa diserupai oleh setan. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa melihatku dalam tidur, ia akan melihatku ketika terjaga (karena) se tan tidak bisa menyerupaiku." Abu Abdillah mengatakan, Ibnu Sirin mengungkapkan, "Maksud nya jika ia melihat rupa beliau."

Ibnu Sirin menjelaskan, meli hat Nabi SAW dalam mimpi me rupa kan sifat yang umum. Jika kita bermimpi melihat Rasulullah SAW sebelum kenabian atau setelahnya, kemudian kita yakin jika penampakan itu sebagaimana di gambarkan para ulama, itu ada lah Rasulullah SAW, Wallahu alam.