Sabtu , 16 Desember 2017, 08:47 WIB

MUI Mulai Sosialisasikan Dakwah Islam Wasathiyah

Rep: Muhyiddin/ Red: Agus Yulianto
ROL/Fakhtar Khairon Lubis
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis mengatakan, bahwa MUI sudah mulai mensosialisasikan pedoman dakwah Islam Wasathiyah di berbagai daerah Indonesia. Sosialisasi tersebut salah satunya telah diselenggarajan di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (15/12) kemarin.

Dalam kegiatan sosialisasi yang dibuka Kiai Cholil tersebut, MUI Jawa Tengah juga membacakan ikrar Dakwah Islam Wasathiyah sekaligus meluncurkan Pusat Pembinaan Muallaf. "Kegiatan sosialisasi Islam Wasathiyah adalah suatu upaya untuk memelihara kehidupan berbangsa dan bernegara yang tetap harmonis dan damai serta untuk meningkatkan ketaatan pengetahuan agama," ujar Kiai Cholil saat dikonfirmasi Republika.co.id, Sabtu (16/12).

Ia menuturkan, agama sebagai penjaga nilai kehidupan bernegara harus terus menegakkan nilai keadaban sekaligus menjaga keutuhan dan persatuan bangsa. Karena itu, menurut dia, upaya menjaga paham Islam wasathiyah di Indonesia setidaknya harus berpijak pada tiga komponen, yaitu ri'ayah (bimbingan), Himayah (perlindungan), dan taqwiyah (penguatan).

"Ketiga pilar ini yang menjadi pijakan Islam untuk membangun peradaban di Indonesia," ucapnya.

Kiai Cholil menjelaskan secara rinci bahwa Ri'ayah adalah komponen dakwah yang mengedepankan bimbingan kepada masyarakat yang tidak memahami agama, sehingga masyarakat kedepannya tak salah dalam memahami teks agama dan yang dikehendaki oleh syariah. "Dakwah dengan cara bimbingan ini penting bagi pemula dalam belajar agama, baik karena tak banyak mengenyam pendidikan agama sejak dini atau karena memang baru masuk Islam," katanya.

Sementara, Himayah merupakan komponen yang harus diberikan kepada umat yang sedang dilanda oleh paham yang sesat. Menurut Kiai Cholil, hal ini untuk menjaga umat Islam dari aliran sesat dan menyesatkan, sekaligus meluruskan kepada paham yang benar. "Masih banyak penyimpangan syariah bahkan aqidah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Anehnya masih banyak juga pengikutnya," ujarnya.

Taqwiyah sebagai komponen terakhir yaitu penguatan umat dan pemberdayaan masyarakat yang harus berlandaskan peta dakwah. Menurut Kiai Cholil, pemetaan dakwah tersebut harus disertai dengan pedoman dakwah sebagai panduan untuk kemudian mengembangkan masyarakat yang berkeadaban.

Terlepas dari semua komponen tersebut, menurut Kiai Cholil, pada intinya semua upaya dari dakwah Islam Wasathiyah adalah untuk melahirkan para dai yang berkuatas sekaligus menjadi teladan bagi lingkungan. Islam wastahiyah sendiri merupakan Islam moderat yang sesuai dengan visi kebangsaan.

"Hal inilah yang membutuhkan akademi dakwah agar kualitas dakwah terus meningkat dan sesuai dengan tuntutan zaman sehingga memberi efek positif dalam memajukan umat," ujarya.