Selasa , 17 October 2017, 12:49 WIB

Konferensi Alumni Al-Azhar Mesir Soroti Fenomena Takfir

Red: Nasih Nasrullah
 Suasana Masjid Al-Azhar yang terletak di kawasan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.   (Republika/Agung Supriyanto)
Suasana Masjid Al-Azhar yang terletak di kawasan Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir. (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Konferensi Internasional yang dihelat Organisasi Internasional Alumni al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia akan fokus persoalan keagaman terkini salah satunya adalah fenomena pengafiran antarsesama Muslim (takfir).   

Sekjen Ikatan Alumni al-Azhar Cabang Indonesia, Muchlis M Hanafi, mengatakan gejala yang tengah melanda sebagian umat tersebut berpotensi merusak persaudaraan sesama.  

“Nalar takfîr sebenarnya merupakan cara berpikir lama yang akhir-akhir ini muncul kembali di tengah-tengah kita dengan wajah baru,” kata penyabet gelar doktoral bidang tafsir Universitas al-Azhar Mesir ini saat berbincang dengan Republika.co.id di Jakarta, Selasa (17/10). 

Menurut dia, fenomena kemunculan kembali nalar takfîr ini di antaranya disebabkan oleh semakin menguatnya dominasi pemikiran sebagian kalangan Islam yang cenderung kaku, anti-dialog, alergi pada hal-hal yang baru, serta suka memilah-milah masyarakat menjadi masyarakat mukmin dan masyarakat kafir

Persoalan lain yang turut menjadi fokus dalam konferensi yang berlangsung di Gedung Islamic Center, Mataram, Nusa Tengara Barat, 17-20 Oktober 2017 ini, unugkap dia, adalah problematika fatwa yang tidak bertanggungjawab di tengah-tengah era digital.  

Fatwa-fatwa tersebut  disebarkan melalui media sosial dan sebagainya tanpa memperhatikan atau pun mempertimbangkan kondisi sosial-politik dan keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Karena itu, kata dia, diperlukan upaya yang lebih signifikan, konkret, dan masif untuk mengetengahkan Islam yang benar dan moderat. Toleransi dan moderasi adalah nilai inti dan dasar dari ajaran Islam. Nilai ini perlu dikembangkan untuk mengatasi beberapa persoalan umat, seperti gejala radikalisme keagamaan, takfir, ekstrimisme, dan sebagainya. 

“Hanya dengan mengedepankan toleransi dan moderasi Islam ini, perdamaian dunia akan tercapai,” tutur dia. 

Ketua Pelaksana Konferensi Fauzan Zakaria menjelaskan selain persoalan takfir dan fatwa, isu lain yang masuk dalam bahasan konferensi ini adalah  persoalan dakwah dan Dai di masa modern, aktualisasi dakwah di era teknologi, dan kesalahpahaman konsep dan penerapan jihad. 

Fauzan mengatakan sejumlah tokoh nasional dan internasional dijadwalkan hadir dalam konferensi yang merupakan hasil kerjasama OIAAI Cabang Indonesia dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat ini. 

Di antaranya Presiden Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj, mantan ketua MK Mafhud MD, matan ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra.  Hadir dari perwakilan Al-Azhar, Deputi Grand Syekh al-Azhar Abbas Abdullah Shauman, mantan rektor Universitas Al-Azhar.  

Selain itu, konferensi ini juga akan dihadiri oleh delegasi dari sejumlah negara di mana terdapat cabang Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar seperti Mesir, Irak, India, Jepang, kemudian delegasi dari negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darusalam.