Selasa , 26 September 2017, 13:27 WIB

'Saat Para Santri tak Sekadar Pintar Mengaji'

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Agus Yulianto
Antara/Aditya Pradana Putra
Warga bercocok tanam sayuran selada dengan menggunakan sistem hidroponik (Ilustrasi)
Warga bercocok tanam sayuran selada dengan menggunakan sistem hidroponik (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Ada yang membuat Menteri Sosial(Mensos), Khofifah Indar Parawansa terkagum- kagum, saat berada di blok tanaman tomat, yang ada di green house hidroponik, di Dusun Ngawinan, Desa Jetis,Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Melihat jajaran rapi pohon tomat dengan ratusan buah yang siap petik, membuatnya betah berlama- lama. Sesekali, ia memegang beberapa buah tomat yang telah ranum dan berhasrat untuk memetiknya.

Belum hilang kekaguman ini, perhatian Khofifah juga tertuju pada blok jajaran tanaman selada merah dan selada hijau yang tampak sehat dan segar, di green house yang bersebelahan. Sayuran ini tertanam raphi dalam paralon yang disusun bertingkat dengan selingan tanaman sawi hijau.

Selain sangat segar, semua tanaman hidroponik ini juga terlihat subur dan cukup terawat. "Luar biasa, nggak nyangka tanaman buah dan sayuran ini dibudidayakan parasantri," ungkapnya, Senin (25/9).

Hari itu, Khofifah mewakili Presiden RI Joko Widodo meresmikan Green House Al Mina Farm milik Yayasan Pendidikan Islam Rifa'iyah Al Mina. Kebun hidroponik bantuan Presiden Jokowi tersebut berisi sejumlah tanaman sayuran bernilai ekonomis seperti tomat, berbagai jenis sayur mayur dan paprika. Bahkan meski baru diresmikan hasil dari kebun hidroponik ini telah menembus pasar supermarket.

"Ini merupakan potret para santri pondokpesantren yang tidak hanya bisa mengaji. Namun juga mampu menguasai teknologi yangpada saatnya kelak akan siap mandiri," ungkapnya.

Menurut Khofifah, apa yang dilakukan para santri di pondok pesantren ini bisa menjadi rujukan dan bisa mengilhami santri-santri lainnya di Tanah Air.  Karena itu, adanya kesan bahwa lulusan pesantren hanya bisa ngaji harus hilang.

"Tunjukkan kalau lulusan pesantren memiliki kemampuan dan kapasitas yang mumpuni. Bisa jadi profesional, akademisi, jadi menteri, bahkan jadi Presiden seperti Gus Dur. Kompetensi para santri di pondok juga tidak kalah dengan lulusan sekolah umum ," tegasnya.

Karenanya, pekerjaan rumah terbesarpesantren saat ini adalah membuka diri dan beradaptasi dengan perkembanganzaman. Meski begitu juga tidak meninggalkan tradisi khas pondok pesantren .

Presiden, masih jelasnya, sangat berharap para pengasuh pesantren dan santri bisa menjadikan pesantren bisa bermetamorfosis mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Sehingga, akan mendorong kemandirian pesantren dan santri kelak setelah lulus.

Ada tiga format pesantren yang diharapkan terbentuk oleh Presiden Joko Widodo. Yakni pesantren agro, bahari, dan pesantren wirausaha. Al Mina ini merupakan salah satu perwujudan pesantren agro.

"Budidaya pertanian hidroponik seperti yang dikembangkan Yayasan Al Mina ini  dapat menjadi motor penggerak ketahanan pangan di tengah masyarakat," tambahnya.

Ia juga mengakui, untuk bisa menjadi seperti ini memang padat modal. Namun, segmen pasar yang disasar adalah menengah ke atas dan besarnya permintaan pasar saat ini belum mampu dipenuhi oleh para petani hidroponik.

Yang penting adalah multiplier effect-nya. Sektor swasta dan BUMN dapat ikut serta membantu permodalan dan teknologi, khususnya melalui dana tanggung jawab sosial kepada para santri seperti yang dilakukan di Al Mina ini.

Sehingga, swasta dan BUMN dapat ikut menginisiasi berkembangnya budidaya pertanian hidroponik di banyak tempat lagi. Khususnya di kalangan pondok pesantren seperti yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo.

"Jika ini terwujud maka akan terjadi lompatan kemandirian santri. Apalagi pasarnya sudah ada dan permintaannya punbesar, " tandasnya.

Salah satu Penasehat Yayasan Pendidikan Islam Rifa'iyah Al Mina, Syaefudin mengungkapkan, saat ini kebun hidroponik Al Mina (Al Mina Farm) --yang dirintis awal tahun 2017-- ini telah masuk fase produksi.

Khusus buah tomat jenis chery dan beef tiap pekan rata- rata bisa dipetik dua kali, masing- masing petikan sebanyak 50 kilogram. Artinya, produktivitas buah tomat ini sudah mencapai 1 kuwintal per pekan atau 4 kuwintal per bulan.

Dengan harga Rp 20 ribu per kilogram, maka produksi buah tomat ini telah menghasilakan rata- rata Rp 8 juta per bulan. "Di samping untuk dana operasional lain, hasil ini kemudian digulirkan kembali untuk modal bagi pengembangan bibit tanaman lagi," jelasnya.

Pengembangan bibit yang saat ini tinggalmenunggu masa panen adalah selada merah, selada hijau, sawi hijau sertapaprika. Khusus untuk tanaman paprika kini menjadi unggulan baru di Almina Farmini.

Untuk pemasarannya nanti akan masuk di Tokomo Deren (swalayan) di Jawa Tengah dan DIY.  Pondok pesantren Almina juga telah menghimpun 11 pondok pesantren dalam wadah Santri Joyo untuk memberikan bimbingan serta menularkan pengalamannya dalam membudayakan pertanian hidroponik ini.

"Semangat kami santri harus bisa ngaji,bisa mengikuti perkembangan teknologi dan harus bisa mandiri. Sehingga ke depansantri ini akan joyo atau jaya," ujar Syaefudin.

Berita Terkait