Rabu , 20 September 2017, 21:50 WIB

Tabiat Bani Israil

Rep: c62/ Red: Agung Sasongko
wikipedia
Laut Merah
Laut Merah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syahdan, fenomena ikan yang melimpah menggiurkan sekelompok Bani Israil yang tidak taat. Mereka mencoba mengompromikan larangan tersebut dan melakukan perundingan bagaimana supaya sepakat menangkap ikan pada Sabtu. Mereka kesal, karena hanya pada hari Sabtu saja ikan-ikan itu bisa ditangkap, sementara hari-hari biasa ikan itu sulit ditangkap meski sudah menjelajahi Laut Merah sampai ke tengah.

"Kita pasti akan mendapatkan ikan banyak dengan cara yang gampang jika menangkapnya pada hari Sabtu," kata salah seorang kaum Bani Israil.

Perundingan itu tak menuai kesepakatan. Muncul perbedaan. Ada yang sepakat dan ada yang tidak. Bagi kelompok yang tidak sepakat, mereka berpendapat, "Bukankan hari itu (Sabtu) dilarang melakukan aktivitas selain beribadah kepada Tuhannya Nabi Daud?"

Karena yang menolak sedikit, sementara yang setuju banyak, akhirnya pada hari Sabtu itu sebagian kaum Bani Israil menangkap ikan di Laut Merah. Benar bahwa hasil tangkapan mereka jauh lebih banyak dari hasil mereka pada hari-hari lain. Alangkah senang hati mereka mendapatkan ide menangkap ikan banyak.

Dengan hasil keputusan tadi, Sabtu bukan lagi untuk fokus menyembah Allah, bersyukur dan belajar ilmu agama, melainkan digunakan sebagai pesta pora karena mendapat tangkapan ikan banyak di laut.

Sebagian kaum Bani Israil yang menolak (beriman) segera memberikan peringatan dan nasihat, tapi arahan itu tidak dihiraukan oleh mereka yang ingkar. Karena ini sudah menjadi tradisi turun- temurun, akhirnya kaum yang beriman itu berjaga-jaga di Laut Merah. Tujuannya agar tidak ada satu orang pun dari kaum manapun yang menangkap ikan pada Sabtu.

Penjagaan itu mendapat reaksi keras dari kaum yang setuju Sabtu digunakan untuk menangkap ikan. Adu mulut antara kaum Bani Israil yang taat dan tidak mulai terjadi dan hampir bentrok.

Golongan yang ingkar berkata, "Kampung ini bukan kepunyaan kalian saja. Kami juga berhak atas kampung ini," katanya.

Karena kedua belah pihak sudah lelah menyampaikan pendapatnya akhirnya diputuskanlah kesepakatan, yakni membagi dua daerah tersebut. Dan, kaum beriman setuju. Persetujuan itu didasari keinginan agar tidak ada lagi perpecahan karena kaum satu dan kaum lainnya berbeda pendapat tentang tradisi dilarang melaut ketika Sabtu.

"Baiklah kita bagi dua saja daerah ini. Sehingga, kami merdeka berbuat apa saja yang kami inginkan, di kampung bagian kami, dan kalian juga merdeka pula berbuat apa yang kalian kehendaki atas hak kalian," katanya.

Setelah diputuskan kesepakatan itu, Sabtu menjadi waktu berpesta bagi kaum yang tidak beriman. Mereka tidak lagi menggunakan Sabtu untuk menyembah Allah SWT. Sementara, kaum yang beriman tetap mengingatkan dan menyeru keluarga dan kerabat dekatnya agar tidak meniru melakukan pesta pada hari tersebut.

Karena pelanggaran ini terjadi pada zaman Nabi Daud, akhirnya Nabi Daud berusaha keras memperingatkan kaum yang melaut pada Sabtu. Nabi Daud juga memperingatkan kaum Bani Israil yang melaut agar tidak lagi berpesta, hanya karena mendapatkan tangkapan ikan banyak. 

Namun, usaha itu tidak berhasil sehingga masalah ini dia serahkan kepada Allah SWT, dengan harapan agar Allah SWT saja yang memperingatkan. Kemudian, turunlah ayat ke-18 surah Shaad. "Sesungguhnya kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi."

Orang-orang tidak mau mengikuti nasihat Nabi Daud dan semakin ingkar. Mereka tamak dalam kehidupannya, mereka mengerjakan segala macam dosa dalam hidupnya. Tabiat mereka berubah menjadi seperti kera atau beruk, tidak tahu halal dan haram, tidak kenal pematang atau pagar.

Akhirnya, bukan hanya tabiatnya yang berubah jelek, tetapi rupa dan bentuk merek juga jadi memburuk. Tabiat yang kasar dan dosa yang terlalu banyak telah mengubah bentuk dan rupa mereka, menyerupai kera atau lebih buruk.

Pada satu hari terjadilah gempa yang begitu dasyat sehingga membuat desa itu luluh lantak. Gempa itu melenyapkan semua golongan ingkar yang sedang melakukan aktivitas pada Sabtu. Sementara, golongan yang beriman selamat. Merekalah orang-orang yang taat terhadap perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.