Kamis , 14 September 2017, 20:00 WIB

Peran Pemuda dalam Mendukung Kejayaan Islam

Red: Agung Sasongko
Aksitarih.com
Era Dinasti Ottoman.
Era Dinasti Ottoman.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Pada masa kekhalifahan Islam, sejarah kembali mencatat peran pemuda dalam mendukung kejayaan Islam. Di Andalusia, Abdurrahman an-Nashir dari Dinasti Umayyah naik takhta pada usia 22 tahun.

Abdurrahman an-Nasir yang mulanya Amir Kordoba menyatakan diri sebagai khalifah setelah berhasil memperluas kekuasaan hingga Afrika Utara. Andalusia mencapai puncak keemasan pada masanya. Dia mampu meredam berbagai pertikaian dan menciptakan kebangkitan sains di Andalusia.

Dalam bidang militer dan pemerintahan, sejarah Islam mengenal sosok Muhammad al-Fatih, Umar bin Abd al-Aziz, dan Salahuddin al-Ayyubi. Muhammad Al Fatih, khususnya, masih sangat muda saat ia berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Dikisahkan Mahmud ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Sultan Muhammad II atau dikenal dengan nama Muhammad al-Fatih adalah putra Sultan Murad II. Ia telah diikutsertakan dalam berbagai peperangan yang dilakukan Turki Utsmani sejak usia belasan tahun.

Al-Fatih mendapat pendidikan Alquran di bawah bimbingan ulama ternama zaman itu, Syekh Ahmad bin Ismail al-Kurani. Sultan Murad II juga meminta para ulama lain mengajarkan ilmu hadis, fikih, kemiliteran, sejarah, tata bahasa, dan sejumlah ilmu modern kepada putranya. Keberadaan para ulama di sisi al-Fatih terus berlanjut hingga penaklukan Konstantinopel dilakukan.

Muhammad al-Fatih naik takhta pada usia 21 tahun, kemudian berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia 23 tahun. Pemimpinnya disebut-sebut oleh Rasulullah dalam hadis sebagai sebaik-baik pemimpin sedangkan pasukannya sebaik-baik pasukan.