Sabtu , 12 August 2017, 22:59 WIB

Cham, Minoritas yang Terus Berkembang

Red: Agung Sasongko
Muslim Champa
Muslim Champa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak Dinasti Nguyen menganeksasi Campa pada 1832. Pemerintah Vietnam terus berupaya menghancurkan bukti-bukti peradaban etnis Cham beserta artefak peninggalan mereka. Kini, masyarakat Campa hanya berstatus sebagai kelompok minoritas di Vietnam dan Kamboja.

Menurut beberapa sumber, sebanyak 132 masjid di Kamboja dihancurkan selama rezim Khmer Merah berkuasa (1975 -1979). Umat Islam pada masa itu tidak diizinkan untuk beribadah. Kemudian, pada masa Pemerintahan Republik Rakyat Kamboja (1979-1993), Islam diberi kebebasan yang sama seperti Budha yang merupakan agama mayoritas di negara itu.

Menurut data terbaru (2014), saat ini sedikitnya terdapat 208 ribu warga Muslim etnis Campa yang tinggal di Kamboja. Meski mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah masjid yang ada di negeri itu tidak jauh berbeda dibandingkan sebelum penghancuran besar-besaran yang dilakukan Khmer Merah pada 1975.

Pada September 2008, Pemerintah Kamboja mengeluarkan instruksi kepada semua sekolah di negeri itu supaya mengizinkan para siswi Muslimah untuk tetap memakai jilbab selama di sekolah. Instruksi tersebut ditandatangani langsung oleh Perdana Menteri Hun Sen yang disambut gembira oleh komunitas Muslim setempat, terutama etnis Cham.

Berita Terkait