Sabtu 15 Apr 2017 07:25 WIB

Menggali Sunah Lewat Bacaan Iftitah

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
Shalat
Shalat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika menunaikan shalat, umat Islam disunahkan membaca doa pembuka setelah mengucapkan takbiratul ihram. Doa itu dikenal dengan sebutan iftitah atau istiftah. Dalam praktiknya, ada beragam lafaz doa pembuka shalat yang bisa diamalkan.

Topik itulah yang menjadi fokus pembahasan Ustaz Adi Hidayat dalam kajian fikih ikhtilaf yang digelar di Masjid an-Nur Jatibening Permai Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (8/4). Pada kesempatan tersebut, dia mengungkapkan bahwa ada 12 doa pembuka shalat yang diajarkan Nabi SAW kepada umat Islam.

"Dari 12 macam doa itu, ada yang bacaannya sangat pendek, menengah, dan panjang," ujar Adi.

Dia mengatakan, doa pembuka shalat yang bacaannya pendek atau menengah dikenal dengan istilah iftitah. Sementara, doa pembuka shalat yang bacaannya panjang disebut istiftah. "Meski demikian, kadang-kadang ada juga yang menggunakan satu istilah saja, yakni iftitah untuk mewakili keseluruhan doa tersebut," ujarnya.

Adi menuturkan, agar sunah Nabi SAW benar-benar teraplikasikan dalam shalat yang ditunaikan, penting bagi kaum Muslim untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membaca iftitah ataupun istiftah. Berdasarkan sejumlah riwayat dan catatan yang ada, Rasulullah SAW, para sahabat, dan ulama-ulama setelahnya sering kali membaca iftitah dalam shalat-shalat yang dikerjakan dalam situasi yang membutuhkan waktu lebih cepat penyelesaiannya daripada situasi normal.

 

"Ini juga berlaku untuk seseorang yang sedang dalam perjalanan jauh atau imam yang memimpin shalat sunah dengan jumlah rakaat cukup banyak, seperti Tarawih atau dokter yang harus bergerak cepat melakukan tindakan untuk pasiennya. Mereka lebih dianjurkan untuk membaca iftitah yang paling pendek. Tidak perlu memaksakan diri membaca doa yang panjang-panjang," kata Adi menjelaskan.

Sementara, doa istiftah dianjurkan dibaca dalam shalat-shalat yang dilakukan pada waktu tenang, nyaman, dan minim akan gangguan duniawi. Sebagai contoh, bacaan panjang tersebut dapat diamalkan dalam shalat sunah Tahajud. Meskipun terdapat banyak sekali doa pembuka shalat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, kata Adi, setidaknya ada dua di antaranya yang cukup populer di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Doa yang pertama berbunyi "Allahumma baa'id bainii wa baina khathayaaya kamaa baa'adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaaya kamaa yunaqqatstsawbul abyadhu minaddanas. Allahumaghsilnii min khathaayaya bil maa-i watstsalji wal bardi.' Doa ini ditemukan dalam HR Bukhari No 2/182 dan HR Muslim No 2/98 dari Abu Hurairah RA.

 Sementara, doa pembuka shalat yang kedua mempunyai lafaz, "Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa syariika lahu wa bidzaalika umirtu wa anaa awwalul muslimiin." Doa ini tercantum dalam HR Muslim No 2/185-186 dari Ali bin Abi Thalib RA.

Adi menjelaskan, kedua doa tersebut sama-sama memiliki dalil syar'i untuk diamalkan dalam shalat. Namun, sayangnya, ada semacam persepsi keliru yang berkembang di tengah-tengah kaum Muslim Indonesia bahwa masing-masing bacaaan itu punya afiliasi dengan organisasi kemasyarakatan  (ormas) atau golongan tertentu.

"Misalnya, doa iftitah 'Allahumma baa'id' sering dikesankan sebagai amalannya orang-orang Muhammadiyah atau Persis (Persatuan Islam). Sementara, kalau 'Wajjahtu' lebih dikesankan milik orang-orang NU (Nahdlatul Ulama). Padahal, pandangan seperti itu jelas tidak benar. Karena, kedua doa tersebut sama-sama diamalkan Rasulullah SAW semasa hidup beliau," ujar Adi.

 

Dia mengungkapkan, doa 'Allahumma baa'id' kerap dibaca Nabi Muhammad SAW ketika menunaikan shalat-shalat siang, termasuk shalat fardu (Subuh sampai Isya). "Mengapa doa 'Allahumma baa'id' lebih dianjurkan dibaca pada shalat-shalat siang? Karena pada saat siang hari kita sangat mudah tergelincir melakukan kesalahan. Nah, doa itu sendiri berisi permohonanan agar Allah SWT senantiasa menjauhkan dan membersihkan orang yang membacanya dari segala kesalahan," kata dia.

Selanjutnya, kata Adi, doa 'Wajjahtu' dan doa-doa istitftah lainnya acap dibaca oleh Rasulullah SAW dalam shalat malam, seperti shalat sunnah Tahajud dan qiyamul lail. "Mengapa doa istitftah lebih tepat dibaca pada shalat-salat malam? Karena kalimat-kalimat yang terdapat dalam lafaz doa itu sangat menyentuh dan mengena jika dibaca dalam suasana yang tenang seperti tengah malam."

Kajian fikih ikhtilaf bersama Ustaz Adi Hidayat rutin digelar di Masjid an-Nur, Jatibening Permai, Bekasi, selepas Subuh pada Sabtu pekan kedua setiap bulan. Di sana, jamaah yang mengikuti materi keislaman dari dai lulusan Islamic Call College Tripoli, Libya, itu terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pegawai negeri sipil, karyawan swasta, pensiunan, remaja, wiraswasta, hingga kaum hawa.

Anggota Dewan Kemakmuran Masjid an-Nur Jatibening Permai Bekasi, Subiyantoro menuturkan, ada beberapa penceramah lain yang secara tetap juga ikut mengisi kuliah atau siraman ruhani di masjid yang ia kelola setiap akhir pekan. Di antaranya, Ustaz Abu Harits, Bukhari Muslim, Ahmad Sudja'i, Waliyul Amri, Farid Okbah, dan Oemar Mita. "Selain mengadakan kajian rutin setiap akhir pekan, Masjid an-Nur juga menyediakan takjil bagi jamaah yang menunaikan puasa sunah Senin dan Kamis," ujar Subiyantoro.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement