Kamis , 31 Maret 2016, 08:42 WIB

Samakan Penggunaan Jilbab dengan Perbudakan, Menteri Prancis Diminta Mundur

Rep: Gita Amanda/ Red: Damanhuri Zuhri
EPA/Thomas Samson
Laurence Rossignol
Laurence Rossignol

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Pernyataan Menteri Hak-Hak Perempuan Prancis Laurence Rossignol yang menyamakan Muslimah berjilbab dengan tindakan perbudakaan, memicu reaksi keras di media sosial dan mengundang petisi untuk memintanya mundur. Dilansir Aljazirah, berikut sejumlah komentar keras para netizen:

"Apa obsesi Prancis dengan jilbab. Ini cukup sederhana, serahkan semua pada perempuan untuk memutuskan dan berhenti memolitisasi itu," ujar akun Twitter @Nomad_LDN.

"Menteri Prancis #LaurenceRossignol: jilbab wanita Muslim seperti "negro mendukung perbudakan". Malu jika Presiden tak memecatnya," kata akun Twitter @yasserlouati.

"@RMCinfo @laurossignol Saya mengenakan jilbab dan saya wanita yang bebas, kuat dan intelektual, kamu, terlalu dengan ketidaktahuanmu," ujar akun Twitter MtiriHajer.

"Saya tak punya cukup kata-kata untuk mengekspresikan rasa jijik dan kemarahan saya pada hal-hal bodoh, rasis, tak benar, dan fanatik yang Laurence Rossignol katakan," kata akun Nocole C.

"Sudah beberapa jam seorang menteri Prancis menggunakan kata N dalam siaran langsungnya di radio dan televisi. Masih belum ada pernyataan dari @fhollande dan @manuelvalls," kata Aida Alami.

Sebuah petisi diluncurkan menyerukan menteri itu untuk mengundurkan diri pascakomentar rasialnya. Hanya beberapa jam setelah diluncurkan, petisi telah mengumpulkan lebih dari 10 ribu tanda tangan.