Jumat 03 Apr 2015 07:47 WIB

Penelitian: Islam Jadi Agama Terbesar Dunia pada 2070

Akademi Islam Amerika
Akademi Islam Amerika

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Jumlah masyarakat Muslim dunia akan menjadi terbesar mengalahkan masyarakat kristen pada 2070. Prediksi ini lahir dari sebuah penelitian yang dirilis Pew Center Research, Kamis (2/4). Hingga saat ini, sejak enam abad sebelum kehadiran Islam, pengikut Kristen belum terkalahkan jumlahnya.

Jumlah masyarakat Islam akan mendominasi, bahkan diprediksi dua kali lebih cepat. Alasannya, di sisi lain masyarakat Kristen Amerika dan Eropa mulai meninggalkan keyakinannya menjadi ateis ataupun agnostik. Penelitian ini berdasarkan analisis melalui 2.500 sumber data termasuk sensus, survei demografi, dan studi lainnya.

"Kita sangat yakin bahwa umat Islam akan tumbuh pesat dalam beberapa dekade ke depan," kata Conrad Hackett, penulis demografi laporan tersebut, dilansir USA Today, Kamis (2/4).

Pada 2050, jumlah masyarakat Muslim dan Kristiani berada pada level yang hampir sama. Umat Kristen memenuhi 31,4 persen populasi manusia di planet bumi ini, sedangkan muslim berada di 29,7 persen.

Kristen, lanjut penelitian tersebut, akan tetap mendominasi di wilayah Amerika. Kendati demikian, peluang surut cukup signifikan. Pada 2050, diyakini satu dari empat umat Kristen akan meninggalkan keyakinan yang dianutnya.

"Kristen akan bertambah 40 juta pengikut baru, sementara kehilangan 106 juta orang. Sebagian besar untuk orang-orang bergabung kepada keyakinan yang tidak terafiliasi dengan agama (ateis dan agnostik)," tulis laporan tersebut.

"Pada pertengahan abad itu, populasi manusia melonjak dari 6,3 miliar pada 2010, menjadi 9,3 miliar manusia," tambah hasil penelitian tersebut.

Di sisi lain, jumlah penganut Hindu dan Yahudi juga cukup berkembang, namun diyakini masih di bawah angka 2,5 persen. Sedangkan untuk keyakinan lainnya seperti ateis ataupun agnostik, menjadi bagian yang paling kecil dari populasi. Mereka akan tersebar di Prancis, Selandia Baru, dan Belanda.

"Anda mungkin mengatakan hanya Tuhan yang tahu berapa banyak orang yang akan beragama," kata Nicholas Eberstadt, seorang ekonom politik dan demografer dari American Enterprise Institute.

"Tapi sejauh kita manusia yang mencoba untuk menggunakan metode statistik dan data, menjawab sesuatu yang rumit adalah pekerjaan luar biasa," tegasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement