Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Mukjizat Nabi Yusya

Ahad 13 May 2018 17:17 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Yerusalem

Yerusalem

Melalui tangannya, Tanah Suci kembali direbut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nabi Yusya adalah seorang pimpinan perang yang gagah dan berani. Dia hadir di tengah kehidupan Bani Israil setelah Musa wafat.Melalui tangannya, Tanah Suci kembali direbut.

Dia memiliki mukjizat untuk menghentikan matahari ketika berperang melawan kaum musyrikin. Dia juga memiliki strategi perang dengan memilih pasukan pilihan. Panglima perang ketika itu mengumpulkan pasukan sebanyak- banyaknya untuk menghadapi musuh. Menurut mereka de ngan jumlah yang semakin banyak tentu kemenangan akan semakin dekat.

Namun, berbeda dengan pendapat Yusya. Nabi Allah ini tidak mementingkan jumlah besar ketika menghadapi musuh. Dia mengutamakan kualitas pasukan ketika berperang. Sehingga, dia memberikan tiga kategori pasukan yang harus keluar dari barisan: pertama adalah orang yang telah melaksanakan akad nikah, tetapi belum menyentuh istrinya. Karena, diyakini ketika berperang mereka akan memikirkan istrinya, apalagi jika mereka masih sangat muda.

Kedua adalah orang yang sibuk membangun rumah dan belum menyelesaikan bangunannya.Rasa waswas dan khawatir tentu akan hinggap di hati mereka jika rumah mereka belum beratap.

Ketiga adalah orang yang membeli unta atau domba bunting sementara dia menantikan kelahirannya. Mereka yang masih memikirkan harta ini yang nantinya tidak fokus untuk berperang. Semuanya dicatat oleh Bukhari dan Muslim dalam hadis.

Prinsip yang dipegang oleh nabi ini menunjukkan bahwa dia adalah panglima yang unggul, pemilik taktik jitu dalam memimpin dan menyiapkan bala tentara sehingga kemenangan bisa diwujudkan. Prajurit tidak menang dalam jumlah besarnya, tetapi dengan kualitas. Ini lebih penting daripada jumlah dan kualitas.

Oleh karenanya, Yusya mengeluarkan orang-orang yang berhati sibuk dunia dari pasukannya, yaitu orang-orang yang badannya di medan perang, tetapi pikirannya bersama istri yang belum disentuhnya atau rumah yang belum diselesaikannya atau ternak yang ditunggu kelahirannya.

Apa yang dilakukan oleh Yusya' ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Thalut ketika melarang pasukannya untuk minum dari sungai kecuali orang-orang yang menciduk air dengan tangannya. Saat itu sedikit dari mereka yang minum. Thalut telah membersihkan pasukannya dari unsur- unsur pelemah yang menjadi titik kekalahan.

photo

Infografis

Allah telah menyampaikan kepada Rasul-Nya bahwa mundurnya orang-orang munafik di perang uhud mengandung kebaikan bagi orang-orang mukmin, Jika mereka berangkat bersama-sama ka mu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka, dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. (At- Taubah: 47).

Merebut Kanaan

Sulaiman al-Asyqari dalam kitabnya tentang kisah para orang saleh menjelaskan, pasukan Yusya berangkat ke Kanaan yang hendak ditaklukkannya. Dia mendekati kota itu pada waktu ashar di hari yang sama. Ini berarti kesempatan untuk merebut kota itu tidaklah banyak karena berperang pada malam hari tidaklah mudah dan hari itu adalah hari Jumat.

Dia harus menghentikan perang begitu matahari terbenam.Karena, berarti telah memasuki hari Sabtu dan perang di hari Sabtu hukumnya haram bagi Bani Israil. Maka, dia harus mundur dari kota itu sebelum merebutnya. Ini berarti memberi peluang kepada penduduk kota untuk memperkuat pasukannya, memperbaiki benteng-bentengnya, dan menambah kekuatan senjatanya.

Yusya menghadap matahari dan berkata kepadanya, kamu diperintakan aku juga diperintahkan. Kemudian Yusya' berdoa ke pada Allah, Ya Allah, tahanlah ia untuk kami. Allah mengabulkan permintaannya dan menunda terbenamnya matahari hingga kemenangannya diraih.

Keyakinan Yusya begitu besar sehingga dia percaya Allah akan menolongnya. Allah mampu memanjangkan siang sehingga kemenangan bisa diraih sebelum terbenamnya matahari. Urusan seperti ini tidak sulit bagi Allah.Padahal, kita tahu bahwa siang dan malam pasti terjadi karena berputarnya bumi mengelilingi matahari.

Dengan matahari yang dapat ditahan oleh Allah maka sebenarnya Allahlah yang mengatur per putaran bumi. Dia bisa saja melambat atau cepat sehingga Yusya dapat memenangkan perang nya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES