Kamis , 07 December 2017, 16:15 WIB

Sultan Hamid II Tolak Tawaran Yahudi

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Wikipedia
Sultan Abdul Hamid II
Sultan Abdul Hamid II

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika wilayah Palestina berada dibawah kekuasaan Turki Utsmani (Ottoman) tahun 1867-1909, maka tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan Yahudi kecuali dengan membujuk Turki Utsmani agar mau menyerahkan wilayah Palestina kepada Yahudi, atau setidaknya mengizinkan imigrasi secara resmi bangsa Yahudi ke wilayah tersebut.

Namun, upaya itu ditolak oleh khalifah Ottoman, saat dipegang oleh Sultan Abdul Hamid II. Sultan Abdul Hamid II mengingatkan, merupakan bahaya yang sangat besar bila dibukanya tanah Palestina untuk Yahudi. Pada tahun 1882, pemerintah Ottoman mengeluarkan dekrit yang melarang didirikannya pemukiman permanen Yahudi di Palestina, sekaligus menolak izin perpindahan bangsa Yahudi ke Palestina.

Berbagai upaya dilakukan tokoh zionis seperti Theodore Herzl. Herzl membujuk Sultan Abdul Hamid II agar mau mengizinkan kedatangan imigran Yahudi ke Palestina. Tahun 1902, delegasi Herzl kembali mendatangi Sultan Hamid. Delegasi Herzl menyodorkan sejumlah tawaran seperti (1) memberikan hadiah sebesar 150 juta Poundsterling untuk pribadi Sultan; (2) membayar semua utang pemerintah Turkis Utsmani yang mencapai 33 juta Pounsterling; (3) membangun kapal induk untuk menjaga pertahanan pemerintah Utsmani yang bernilai 120 juta Frank; (4) memberikan pinjaman tanpa bunga sebesar 35 juta Poundsterling; dan (5) membangun sebuah universitas Utsmani di Palestina. Namun, semua tawaran itu, ditolak oleh Sultan Hamid II.

''Sesungguhnya, saya tidak sanggung melepaskan kendati hanya satu jengkal tanah Palestina. Sebab ini bukan milik pribadiku, tetapi milik rakyat. Rakyatku telah berjuang untuk memperolehnya sehingga mereka siram dengan darah mereka. Silakun Yahudi menyimpan kekayaan mereka yang miliaran itu. Bila pemerintahanku ini tercabik-cabik, saat itu baru mereka dapat menduduki Palestina dengan gratis. Adapun, jika saya masih hidup, maka (meskipun) tubuhku terpotong-potong adalah lebih ringan ketimbang Palestina terlepas dari pemerintahanku,'' kata Sultan Abdul Hamid II yang ditujukan kepada Theodore Herzl.