Senin , 19 Juni 2017, 14:00 WIB

Muslim Latvia Berkarakter Toleran

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
Suasana ibukota Latvia, Riga, di malam hari
Suasana ibukota Latvia, Riga, di malam hari

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Sejarah menunjukkan bahwa umat Islam masih termarjinalkan. Sejarah mencatat gelombang pendatang baru dari Timur Tengah ke Latvia. Masyarakat Latvia mampu bersikap toleran dan menerima meski tak bisa dimungkiri adanya xenofobia pada saat bersamaan.

Umat Islam di Eropa Barat membutuhkan beberapa dekade untuk berintegrasi dan praktik di lapangan menjelaskan fakta bahwa integrasi secara penuh belum bisa terwujud. Bagi Latvia, akan memakan waktu puluhan tahun lagi.

Saat ini, masyarakat Latvia belum siap dengan pendatang baru dari dunia Muslim. Jadi, jika Latvia menghadapi migrasi baru semacam itu, ini akan menjadi salah satu tantangan terbesar zaman.

Orang Latvia harus menerima Muslim. Namun, saat yang sama, tuntutan terse but harus diimbangi dengan kesadaran para imigran Muslim tersebut terhadap budaya Latvia dan pola hidup mereka. Inilah tantangan hidup bagi kita semua. 

Sayangnya, perang yang sedang berlangsung melawan terorisme dan krisis pengungsi baru-baru ini telah memicu kebangkitan Islamofobia di masyarakat Latvia. Publik khawatir aksi terorisme yang menargetkan Eropa, merambah ke Latvia. Ini antara lain tergambar dari gesekan budaya asing dari para imigran yang berpotensi memecah belah masyarakat Latvia.